Bank Muamalat Bulukumba jadi Kenangan

bank-muamalat
Bulan Ramadan lalu adalah waktu bagi kaum muslimin bersuka cita. Banjirnya pasar dan pusat perbelanjaan menjadi fenomena khusus kala itu. Orang yang profesinya sebagai pedagang menjadikan momen Ramadan adalah waktu menjual produk/ Jasa yang dimilikinya dan meraup keuntungan yang maksimal. Bahkan, Bank dan pegadaian pun tak kalah ramainya.

Tapi…Lain halnya dengan bank Muamalat yang berada di kota Bulukumba. Bank yang sejak lama berdiri dan merupakan pioneer Bank Syariah di Indonesia ini sepi pengunjung. Dan akhirnya memproklamirkan dirinya Tutup di Bulukumba Akhir Ramadan 2016.

Sontak hati ini merasa sedih. Bukan karena saya adalah pemiliknya, dan memang saya bukan salah satu jajaran direksinya. Bukan pula karena saya adalah karyawannya, dan memang saya tidak pernah bekerja di sana. Harus kuakui, sedikit kesedihan muncul karena saya adalah salah satu nasabahnya. Namun, kesedihan terbesar muncul karena rasa peduli dengan nasib perekonomian islam di Bulukumba dan secara umum di Indonesia.

Porsi bank dan asuransi Syariah di Indonesia belum sampai 20%. Sedangkan ummat muslim kita 85%. Apa yang salah ?

Kalau saya boleh berpendapat, masalahnya terletak pada pemahaman riba dkknya. Ilmu dan pengetahuan kebanyakan kaum muslimin Indonesia tidak sampai pada memahami apa itu Riba dan bagaimana solusinya. Kita tidak berada pada shaf berislam secara kaffaah di sisi ekonomi. Sebenarnya, telah cukup Qs. Al Baqarah: 275-278 sebagai penjelasan bahwa hendaknya kita meninggalkan sistem riba. Namun kenyataannya, banyak dari kita yang tak kepikiran sama sekali berada sebagai bagian penggiat ekonomi syariah, walaupun minimal sebagai nasabah.

Saya jadi iri dengan beberapa negara seperti Inggris, Singapura, dll. Beberapa negara maju itu sekarang sedang giatnya mempelajari dan mengaplikasikan sistem ekonomi syariah. Mereka giat mengedukasi rakyatnya untuk memilih produk syariah. Mereka mayoritas non muslim, tapi sadar bahwa sistem perekonomian islamlah yang adil dan selamat. Adil mensejahterakan semua pihak, selamat dari krisis ekonomi. Namun harus disadari bahwa mereka memilih ekonomi Syariah karena alasan keuntungan bisnis dan dunia semata, bukan atas dasar keimanan.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia dengan negara muslim terbesar dunia? Akankah tergerak hati pemimpin dan rakyatnya untuk memajukan perekonomian berbasis islam, yang telah nyata kemashlahatannya bagi seluruh penduduk dunia? Akankah kita mampu memunculkan islam sebagai Rahmatan lil aalamiin? Harusnya, kitalah yang lebih paham dan semangat dibandingkan mereka yang non muslim! Hal itu karena adanya unsur keimanan yang selalu mendorong kita berharap akan keberkahan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.

Oleh karena itu, mari kita giatkan perekonomian Islam dengan menjadi nasabah bank/ asuransi yang berbasis Syariah. Buang jauh-jauh perasaan bahwa yang syariah itu rata-rata minim pengalaman, tidak profesional atau kurang bagus pelayanannya. Sebab setiap kita mengalami proses dan biarkanlah sistem syariah berkembang terus hingga lebih mapan. Dengan kita menjadi nasabahnya dan memilih komitmen, maka kita sudah turut andil dalam memajukan dan mempertahankan sistem ekonomi syariah di Indonesia. Allaahu a’lam

Penulis: Ajrul Husnah Anwar (Pemerharti Ekonomi Syariah)