Pendidikan dan Berita Hoax

zul-afiat-opini-hari-sumpah-pemudaIndonesia sebagai negara yang penganut mayoritas Islam di seluruh dunia merupakan sebuah pondasi dari cara berfikir masyarakat indonesia bahwa sebuah negara yang penduduknya mayoritas islam harus menjadi contoh yang baik bagi negara lain. Isu yang marak dua pekan ini adalah penyebaran berita hoax yang terjadi media sosial, saling fitnah, provokasi dan hal lain yang mengedepankan ego pribadi dan kekuatan politik untuk menyerang satu sama lain hingga meresahkan masyarakat.

Pemerintah baik dari kalangan eksekutif dan yudikatif seharsunya mampu mengayomi persoalan ini, akan tetapi hal belum bisa di atasi dengan baik. Sebuah kondisi negeri yang cukup menyedihkan.
Melihat kondisi ini kita harus melihat dari hulu ke hilir, sebuah gejala sosial yang timbul pada sebuah tatanan masyarakat sering kali berakar dari lemahnya pendidikan. Baik itu pendidikan karakter, pendidikan akhlak, pendidikan agama dan pendidikan di lingkungan keluarga. Mengapa pendidikan?, karena pendidikan adalah rule yang digunakan manusia dalam berkehidupan.

Mari kita melihat contoh dalam lingkungan keluarga, sebuah keluarga yang orang tua dan anak-nakanya “berpendidikan” maka akan tumbuh sebuah keadaan yang harmonis. Keluarga adalah benteng pertama pendidikan, dan orang tualah penggeraknya. Ayah dan ibu harus mampu menjadi motor penggerak bagi anak dan lingkungannya untuk saling memberikan proses penyadaran dalam menyampaikan kebaikan dan informasi. Di sinilah kita dapat melihat betapa penting pendidikan dalam sebuah kehidupan.

Lingkungan yang di dalamnya tumbuh dan berkembang orang-orang yang paham agama dan pendidikan yang baik, maka akan mampu menfilter berita-berita yang ia terima, lalu menyebarkanya kepada publik. Terlepas dari hal itu masih banyak saudara-saudara kita yang menurutku “khilaf” karena mudah terprovokasi dan menyebarkan berita hoax. Sebagai masyarakat yang terdidik dan berpendidikan harus mampu menjadi contoh yang baik bagi masyarakat, kita tak boleh lupa apa yang menjadi ajaran Agama kita. Bukankah Islam telah mengajarkan kita bagaimana cara berkehidupan dengan baik dan benar, menyampaikan nasehat untuk mentaati kebenaran dan nasehat supaya menepati kesabaran.

Pada hakikatnya adalah kita harus kembali ke hulu melihat apa yang menjadi kesalahan kita dalam menyikapi keadaan masyarakat yang begitu mencekam. Informasi yang kita terima harus tau kebenarannya terlebih dahulu lalu menyebarkannya sehingga tidak menimbulkan fitnah. Ditambah lagi dengan gejolak bangsa kita yang sebentar lagi menyelenggarakan pilkada serentak dalam pemilihan kepala daerah, baik itu gubernur dan wakil gubernur, walikota dan wakil walikota dan bupati dan wakil bupati. Semua itu merupakan rangkaian dari dinamaki perpolitakan di negeri yang menganut sistem demokrasi dalam memilih pemimpin yang mungkin menambah naluri masyarakat untuk ikut berkomentar, berupa saran, kritik. Akan tetapi karena persoalan kepentingan kelempok, kritik dan saran yang diberikan berbau provokasi dan fitnah, sehingga menambah gaduh masyarakat.

Meskipun semua masyarakat memahami bahwa negara kita adalah negara demokrasi yang setiap masyarakat bebas berpendapat di muka umum, baik itu di lingkungan pemerintah dan di media sosial, akan tetapi masih ada segelintir masyarakat kita yang tidak mematuhi rambu-rambu dalam menyatakan pendapat. Sehingga timbullah provokasi dan fitnah dimana-mana. Semua hal ini harus kita sadari bahwa ini bukan budaya kita, masyarakat harus menghentikan hal seperti ini, karena menggangu ketentraman dalam hidup. Nuansa yang kita bangun haruslah nuansa yang berbau kebaikan, bukan ujaran kebencian dan fitnah. Problem seperti ini bisa berubah dengan kesadaran yang timbul dari pribadi seseorang, oleh karena itu mari menjadi pelopor menghentikan berita-berita hoax yang saat ini merusak silaturrahim kita antar sesama dan ummat beragama. Mari menjaga kebhinekaan yang sudah dilahirkan oleh pahlaawan kita, mari kita rawat itu dengan keberagaman sehingga perbedaan itu selalu memancarkan cahaya kebahagiaan.

Malaysia, 07 Januari 2017
Zul Afiat
Penulis : Mahasiswa megister di Universitas Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Malaysia