1.000 Pelajar Bulukumba Pelajari Rumus Antikorupsi

oleh

BULUKUMBA,BB – Fungsional Dikyanmas, Handa berbicara pada Lokakarya Putih Abu-Abu di Bulukumba pada Ahad (2/2) lalu, di Bulukumba, Makassar, Sulawesi Selatan. Ia bertanya kepada para pelajar se-Kabupaten Bulukumba itu, apa itu korupsi?
Wajah-wajah antusias itu menjawab, “Korupsi adalah perbuatan menyengsarakan rakyat.”  “Korupsi adalah perbuatan mencuri uang negara.”,  Korupsi adalah perbuatan menyalahgunakan uang rakyat.”

Ada lebih dari seribu peserta yang hadir. Ada seribu jawaban pula dalam benak mereka. Handa menyelaraskan jawaban mereka bahwa tindak pidana korupsi tidak hanya berkaitan dengan kerugian keuangan negara, namun lebih luas juga menyangkut perilaku seperti penyalahgunaan jabatan, suap-menyuap, kecurangan, konflik kepentingan dalam pengadaan, serta gratifikasi.

Loading...

Dalam kesempatan itu, pelajar yang berasal dari 14 kecamatan se-Bulukumba ini mengikuti lokakarya yang digelar Kerukunan Keluarga Mahasiswa Bulukumba (KKMB) Komisariat Universitas Hasanudin (Unhas) di Gelanggang Remaja KNPI Bulukumba.

Usai mengikuti kegiatan Try Out dan pembahasan soal-soal Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), mereka lalu dibekali semangat antikorupsi. “Selain dipersiapkan secara akademis, mereka juga harus dibekali sikap mental antikorupsi,” kata Al Qadri, ketua panitia pengelenggara.

Handa juga mengajak diskusi sembari menggambarkan kondisi bangsa yang memprihatinkan akibat korupsi. Tingkat ketahanan pangan Indonesia menurut laporan Global Food Security Index 2013 berada di urutan ke-66, jauh terlampaui negara liliput Singapura yang berada di posisi ke-15. Begitupun tingkat Kemiskinan Indonesia yang mencapai angka 28,55 juta orang per September 2013 (BPS) serta tingkat hutang luar negeri Indonesia yang sudah mencapai Rp1.975,62 triliun dengan bunga Rp15,8 trilyun per September 2013.

Nisa, salah seorang peserta asal SMAN 1 Bulukumba bertanya heran, “Mengapa saat ini semakin banyak para pejabat yang korupsi padahal sudah ada lembaga KPK?” Pertanyaan ini lantas dijawab peserta lainnya, Dani, yang berpendapat, korupsi terjadi karena sifat ketamakan para pejabat dan juga, “Hukum yang ada belum memberikan efek jera bagi para koruptor,” katanya.

Fungsional Dikyanmas lainnya Ryan Hutama menayangkan iklan yang dibuat KPK. Para peserta tampak tersenyum kecut melihat tindakan koruptif dalam film yang begitu dekat dengan keseharian mereka, seperti menyontek saat ujian, berbohong, bahkan menyogok aparat polisi ketika kena tilang. Ryan mengingatkan peserta bahwa perilaku tersebut merupakan cikal-bakal korupsi yang harus ditinggalkan saat ini juga dengan memberikan sebuah rumus “triple agent”.

Pertama, pelajar sebagai Tokoh Anti Korupsi. Dalam memainkan peran ini para pelajar harus menyiapkan diri dengan pengetahuan dan pemahaman yang cukup mengenai korupsi sehingga dapat menularkan pengetahuannya kepada orang lain.

Kedua, pelajar sebagai Aktor Anti Korupsi. Setiap individu pelajar perlu menginternalisasikan nilai-nilai antikorupsi dalam perilaku sehari-hari sehingga orang lain dapat melihatnya sebagai sosok teladan yang baik.

Ketiga, pelajar sebagai Agen Anti Korupsi. Setelah individu pelajar memberikan teladan maka selanjutnya diharapkan ia dapat menggerakan orang lain untuk berbuat dan berperilaku antikorupsi. “Inilah peran yang paling tinggi, sehingga gerakan sosial antikorupsi itu membesar dan menular,” katanya.

Laporan: Humas/KPK – Foto Thejakartapost

Loading...