Tekad wasit ISL 2014 ingin lebih baik

oleh

Hari kedua Referee Enhancement Program (REP) 2014 baru saja berakhir. Antusiasme tinggi terlihat begitu nyata dari 25 wasit elit ISL 2014 yang mengikuti program ini, kendati lebih dari 12 jam mereka harus mengikuti materi yang diberikan oleh para narasumber.

Dibuka secara resmi oleh Sekjen PSSI Joko Driyono, pada Selasa (18/3), program ini memang berbeda dari biasanya. Ke-25 wasit yang hadir di Hotel JW Marriot, Jakarta, ini sama sekali tidak menerima materi pembekalan laws of the game, seperti halnya bisa mereka terima setiap mengikuti acara penyegaran wasit.
“Kita memang berharap penampilan yang berbeda. Wasit sebenarnya adalah manusia terpilih yang punya kemampuan di atas rata-rata. Tapi, pada kenyatannya, wasit sering jadi objek bahasan dalam konteks yang tidak diharapkan,” kata Joko Driyono.

Loading...

“Kita ingin berjuang, mengedepankan ingin sisi lain dari wasit. Mereka manusia yang ditakdirkan memproteksi law of the game. Kita ingin bahwa wasit dan kita semua memproteksi pertandingan agar tidak kehilangan pesona. Saat hasil sudah diketahui sebelum usai. Pesona harus dijaga, misteri dalam sepakbola harus dijaga,” imbuh Joko.

Lebih lanjut, Joko menyatakan bahwa ujung dari upaya ini adalah peningkatan reputasi. Wasit jangan menjadi manusia kelas 2, yang diolok-olok.

“Dalam semua hal, termasuk penampilan, seperti saat ini para wasit menggunakan setelan jas rapi. Wasit jangan mendegradasi jadi kelas 2. Apalagi dalam bertugas sampai mencium tangan tim yang bertanding. Bukan sok-sokan, tapi mengangkat mereka menjadi High profile. Kita ingin wasit disegani, karena integritas dan karakter di lapangan,” papar Joko.

Selaras dengan keinginan tersebut, pada hari kedua, yang menjadi inti dari REP 2014 ini, pembicara pertama, Tommy Welly, memberikan materi kepada wasit mengenai komunikasi.

“Komunikasi menjadi hal yang sangat penting dikuasai oleh wasit. Kita bisa belajar dari gesture dan cara komunikasi para wasit terkenal dunia, seperti Pirluigi Collina. Ini hal yang harus ditingkatkan performanya oleh wasit-wasit Indonesia. Selain itu, di sesi kedua, saya juga sharing mengenai pentingnya integritas dalam sepakbola, khususnya terkait isu terpenting yang menjadi perhatian utama FIFA saat ini, match fixing,” ungkap Tommy, yang kini menjabat General Manager Football Development PSSI.

Dalam paparannya, Tommy berbagi materi tentang integritas sepakbola, sebagai buah pengalamannya mengikuti seminar di AFC bulan lalu. Wasit sebagai salah satu subjek penting dalam sepakbola, memang menjadi salah satu sasaran utama dalam upaya match fixing di sepakbola.

“Inilah pentingnya football integrity. Jangan mau, para wasit menerima ajakan para penjahat sepakbola yang bergentayangan dalam match fixing. Karena terbukti, godaannya memang sangat tinggi,” papar Tommy, yang memaparkan pula laporan data resmi dari UEFA terkait match fixing tersebut.

Setelah Tommy Welly,  para wasit elit ISL ini menerima materi  dari psikolog terkenal, Zoya Amarin. Pada sesi ini, para wasit terlihat begitu antusias mengikuti pola pemaparan yang atraktif dari Zoya diselingi dengan berbagai macam permainan penuh makna.

Sesi terakhir, wartawan senior, Ian Situmorang, menjadi pembicara terakhir. Sesuai dengan backgroundnya, Ian Situmorang memberikan materi mengenai peranan media dengan wasit, dipandang dari berbagai sudut.

Yang pasti, para wasit sendiri mengakui acara ini sangat positif bagi mereka. Bahkan, mengusulkan kepada PSSI maupun PT LIga Indonesia untuk secara rutin menggelar acara ini. Selain memberikan warna dan pencerahan yang berbeda, acara ini juga bisa menjadi ajang diskusi dan sharing langsung dengan PSSI maupun PT Liga.

Dan, satu hal yang sangat penting, para wasit menandatangani pakta integritas. Mereka menyatakan siap membuat perubahan yang lebih baik demi kemajuan sepakbola nasional. (ligaindonesia.co.id)

Loading...