Habiskan Malam di Kafe Terbuka Juga Asik

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Nongkrong berlama-lama di Kota Bulukumba pada malam hari biasanya hanya di warung kopi (warkop) dan kafe karaoke. Namun kini ada lho namanya Kafe Terbuka.

Suasana baru akan menyapa anda jika melewati hiruk-pikuk malam di jantung Kota Bulukumba. Sebut saja di Lapangan Pemuda dan Bundaran Pinisi.

Bacaan Lainnya

Kawula muda kini punya alternatif baru  untuk menghabiskan malam dengan gaya santai. Mereka tampak penuh riang bersama kawan-kawannya di Kafe Terbuka dengan segelas minuman jus yang ditawarkan.

Ada yang duduk di kursi dan ada yang duduk di lesehan yang disediakan pemilik kafe. Malam benar-benar dinikmati dengan pemandangan terbuka di sekeliling.

BACA JUGA:   Bisnis Sketsa ala Seiko Arthur, Cara Milenial Survive Saat Pandemi Corona

Tempat ini disulap oleh para pengusaha muda dan kreatif menjadi tempat yang asik dan ramai dikunjungi. Dengan modal grobak, cetak spanduk, dan perlengkapan kafe lainnya termasuk alat akustik maka Anre Edo yang memiliki usaha Puncake Banana membuka “Red Low Green” kafe terbuka pertama di Butta Panrita Lopi.

Berdasarkan pengalamannya selama tiga tahun di Benteng Rotterdam Makassar, di sana ia merintis usaha kafe terbuka. Ide itu kemudian muncul dan setelah launching kemudian beberapa pengusaha muda lainnya mulai melirik potensi ini dan menjadi pesaing bisnisnya.

Agar berbeda dengan kafe terbuka lainnya, Anre Edo yang gemar bermusik dan menyanyi menggabungkan pengalaman kerjanya dengan hobinya. Red Low Green kafe menampilkan musik live Acoustic dua kali seminggu yakni setiap Kamis malam dan Sabtu malam. Kamis malam ajang request dan para pengunjung dapat menyanyikan lagu langsung dan tiap malam minggu lagu yang dinyanyikan sudah diprogram sang vokalis. Menjadi daya tarik tersendiri, para personil yang bermain dengan total dan suara merdu sang vokalis membuat pengunjung semakin ramai.

BACA JUGA:   Nardi, Berjuang dari Tukang Parkir Hingga Usaha Sablon Gaul di Bulukumba

“Dulunya saya punya pemain band dan saya berperan sebagai vokalis sekaligus gitaris dengan naman Killing In The Name. Karena itu saya gabungkan usaha saya dengan menampilkan teman-teman yang juga hobi dan pandai bermain musik,” ujarnya.

Usai kegiatan ditutup, semua peralatan dirapikan termasuk gerobak dan pihak kafe membersihkan tempat tersebut meskipun ia rutin membayar retribusi kebersihan. Demi lingkungan yang bersih dan lokasi yang tetap terjaga kerena mereka berkomitmen untuk menjaga aset pemerintah ini termasuk lampu malam. Namun pemkab telah memberikan bantuan berupa pinjaman tenda dua unit dari KP3E yang dipasang setiap hari mulai pukul 17.00 Wita hingga pukul 24.00 Wita.

Untuk meningkatkan skala usaha dan lebih banyak memberdayakan penggangguran, ia berharap pemerintah memberikan bantuan berupa pembinaan dan suntikan modal.

BACA JUGA:   Nardi, Berjuang dari Tukang Parkir Hingga Usaha Sablon Gaul di Bulukumba

Kafe Terbuka ini bisa menjadi inspirasi bagi warga lain untuk membuat usaha yang kreatif. Sebut saja membuat warkop tebuka plus wifi atau bioskop terbuka. Bagaimana selamat berpikir dan bekerja.

Laporan: Anna Masiga

Pos terkait

3 Komentar

  1. melihat kondisi ini seharusnya pemerintah lebih melihat lagi sektor2 publik yg bisa mulai di benahi… contohnya saja garis pantai di bulukumba belum tertata. bahkan sebagian masih di katakan kumuh… kan enak semakin banyak tempat rekreasi di kota. jangan rumah sakit dijadikan tempat nongkrong…

  2. di belakang Edo ada temen yg membuat edo sampai buka di lap pemuda.rencana awal edo hanya di depan rumahnya saja.sampai ketemu dengan temennya yg buat edo buka cafe secara out door.

  3. asikk… kurang Sarabba..na…. dan pisang gorengna… apalagi cotona… nyammna karaengg

Komentar ditutup.