MUI Solo Tolak Edaran Larangan Jilbab Besar

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

SURAKARTA,BB – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo tidak menerima surat edaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah soal larangan memakai jilbab besar bagi PNS di kantor dan perusahaan pemerintah.

Dalam jumpa pers Jumat 29 Maret 2013, MUI Solo beserta Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Surakarta dengan tegas menyatakan menolak surat edaran dari Gubernur Jateng tersebut.

Bacaan Lainnya

MUI juga tidak akan tinggal diam jika benar ada karyawan atau PNS di instansi terutama rumah sakit yang terkena sanksi akibat edaran tersebut.

BACA JUGA:   Filipina Larang Guru Muslim Pakai Hijab Saat Mengajar

“Mengenai edaran Gubernur soal larangan jilbab besar, MUI Solo akan melawan seandainya ada karyawan khususnya di Rumah Sakit jika ada yang terkena Sanksi atau Surat Peringatan,”kata Sekjen DSKS Ustad Aris Munandar Al Fatah seperti dilansir Muslimdaily.net Jumat 30 Maret 2013.

Menurut Ustad Aris Munandar Al Fatah, surat edaran dari Gurbernur dianggap sudah meresahkan kalangan tokoh Islam di Solo.

Sebelumnya, Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menggelar Jumpa Tokoh Umat Umat Islam Surakarta bersama Pakar Tahfidz dari Palestina Syekh Abdurrahman Al Jamal, di rumah dr Tunjung Soeharso di Jalan Slamet Riyadi.

Hadir Tokoh Umat Islam Solo diantaranya Dr. Soeparno, ZA, KH Wahyudin, KH Ahmad Dahlan, Dr. Harun Al Rasyid, KH Sudirman, KH Yunus, KH Shihabbudin, Joko Trisno Widodo, SH serta pimpinan Pondok Pesantren dan Laskar.

BACA JUGA:   Direktur RSUD: Surat Pengaturan Pemakaian Jilbab, Bukan Larangan

Ketua MUI Solo Prof. Dr. Zaenal Arifin Adnan mengatakan pertemuan ini  sangat tepat karena menghadirkan Pakar Tahfidz dari Palestina.

Memang pertemuan ini memiliki tema “Rakyat Indonesia bersama Palestina, Spirit Al Quran dalam Perjuangan”.

Menurut Ketua DSKS Dr. Muinudinillah Basri, MA Syekh Abdurrahman Al Jamal adalah seorang Hafidz (Hafal Al-Quran) yang memimpin seribu lebih Halaqoh Tahfiz dengan murid sebanyak 22.000 an. Ia juga anggota Hamas. Sementara Syekh Abdurrahman Al Jamal banyak warga Palestina yang menjadi syuhada yang ternyata mereka adalah Hafidh. Ia menambahkan bahwa di Palestina untuk menjadi Hafidz butuh waktu 2 bulan, dengan perhitungan bahwa sehari belajar selama 7-8 jam bisa setengah juz.

BACA JUGA:   Soal Larangan Jilbab, MUI Solo Segera Temui Pengelola Rumah Sakit

Menurut Syaikh Jamal hubungan Indonesia dengan Palestina cukup erat, banyak bantuan dan relawan dari Indonesia di Palestina. Hadir juga pimpinan dari KISPA Ust. Ferry Nur.

Laporan: Cr10/Jabbar Bahring

Pos terkait

2 Komentar

  1. Subhanallah… dua bulan bisa hafidz. Ane mneghafal sudah ada 3 tahun lebih belum dua juz bahkan. Hikz… 🙁

    Itu Gubernur Solo, pecat saja deh. Masih banyak kok yang bisa diandalkan yang tidak mengusik hukum” Islam.

Komentar ditutup.