Penentuan 1 Ramadhan, sidang isbat tidak live lagi di tv

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

JAKARTA,BB – Penentuan 1 Ramadhan 1435 H/2014 M yang rencananya digelar pada Jumat (27/6) tidak disiarkan lagi oleh stasiun televisi. Hal ini tentu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan disampaikan melalui konperensi pers secara terbuka, seusai pelaksanaan sidang. “Banyak masukan yang datang ke kami yang menyarankan sebaiknya proses diskusi dalam sidang itsbat tidak perlu ditayangkan secara langsung melalui televisi,” kata Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, di ruang kerjanya, Jakarta, Jumat 20 Juni 2014.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:   PT Asuransi Bumida Tawarkan Asuransi Mudik 2013

Menurut Menag, pembahasan dalam proses sidang isbat itu menyangkut hal yang sangat teknis terkait penentuan awal bulan, ilmu perbintangan, dan teknis hisab-rukyat yang belum tentu bisa dipahami oleh masyarakat, apalagi jika tidak mengikutinya secara utuh. Hal ini dikhawatirkan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

“Ketidakpahaman ini bisa menimbulkan kesalahpahaman. Karenanya banyak masukan agar proses diskusi tidak perlu ditayangkan secara langsung,” papar Menag. Sedangkan hasil sidang isbat yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat, menurut Menag, tetap akan disampaikan secara langsung kepada masyarakat melalui siaran langsung televisi. “Hasil atau kesimpulannya seperti apa, lalu keputusannya bagaimana, itu yang ditunggu masyarakat, dan karenanya pers perlu meliput itu,” ujarnya.

BACA JUGA:   Awal Ramadan di Google 9 Juli 2013

Saling Menghargai
Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin mengemukakan, meskipun sebelum dilakukan sidang isbat, Kemenag melakukan lokakarya yang membahas penentuan awal Ramadlan 1435H, peluang terjadinya perbedaan awal Ramadhan masih akan tetap terbuka karena tidak terjadinya titik temu dalam kriteria posisi hilal (bulan).

Jika nanti setelah lokakarya masih terjadi perbedaan awal Ramadhan (Muhammadiyah sudah menetukan 1 Ramadhan pada Sabtu, 28 Juni, red), Menag berharap umat Islam untuk saling menghargai dan menghormati segala perbedaan.

Ia mengingatkan, bahwa perbedaan penerapan Ramadan merupakan persoalan klasik karena adanya perbedaan metode yang digunakan yakni metode hisab dan rukyat. Pemerintah sendiri, kata Menag, tetap wajib untuk menetapkan awal Ramadan sebagai bentuk tanggung jawab negara.

BACA JUGA:   Inilah Rincian Jam Kerja PNS Bulan Ramadhan

Menag meminta semua pihak untuk menghormati hasil sidang isbat nanti, meski tidak ada paksaan. “Indonesia bukan negara agama seperti Arab Saudi. Jadi Pemerintah tidak bisa memaksakan kehendaknya. Berbeda itu wajar,” katanya lagi. [humas Kemenag]