Membangun karakter bukan lisan maupun tulisan, tapi keteladanan

  • Whatsapp

Oleh: Baharuddin,SH

Tingkat kecelakaan lalu lintas semakin hari semakin meningkat. Hal tersebut terjadi karena kurangnya kepedulian dan kesadaran dalam berkendara bagi masyarakat. Kendaraan adalah suatu hal yang sudah wajar dan wajib untuk dimiliki masyarkat demi memenuhi fasilitas mobilitas yang tinggi. Namun, pada kenyataannya tidak diikuti dengan sikap sadar dalam berlalu lintas sehingga pengendara berlaku seenaknya tanpa mem-pedulikan hak pengguna jalan lain.

Data WHO memperkirakan bahwa di tahun 2020 penyebab terbesar kematian adalah kecelakaan di jalan raya tepat di bawah penyakit jantung dan depresi. WHO mencatat bahwa 1 juta orang meninggal dunia tiap tahunnya di seluruh dunia akibat kecelakaan, dimana 40% diantaranya berusia 25 tahun dan 60 % berusia < 25 tahun yaitu berkisar pada usia anak-anak dan remaja. Sementara itu jutaan lainnya mengalami luka parah dan cacat fisik. Pada umumnya korban lalu lintas di jalan raya mayoritas adalah remaja (anak sekolah dan mahasiswa).

BACA JUGA:   BREAKING NEWS: Bangunan RSUD Bulukumba Terbakar

Remaja menggunakan sepeda motor bukan pada pemanfaatan transportasi, namun pada life style atau trend. Faktor kematangan psikologis sangat berperan penting dalam mempengaruhi etika remaja berkendara. Usia remaja adalah golden age (masa keemasan) dimana mereka masih dalam proses pencarian diri yang cenderung ingin menonjolkan diri mereka dan masa remaja dimana mereka sering berhadapan dengan gejolak perasaan yang labil dan tingkat depresi yang tinggi, sehingga kontrol emosional yang belum baik dan sering kali membawa remaja lari dari masalah dan memilih kepada perilaku-perilaku negatif seperti melampiaskan amarah dengan mengebut di jalan, berkendara tidak sesuai standar dan tidak memperdulikan hak orang lain di jalan.

BACA JUGA:   Inilah Klasemen Sementara Liga Inggris 10 Maret 2014

Perilaku menyimpang remaja tersebut yang menyebabkan angka kecelakaan semakin meningkat tiap tahunnya. Sikap dan perilaku menyimpang tersebut sangat menghawatirkan karena remaja adalah aset harapan bangsa. “Jika ingin melihat masa depan sebuah negara maka lihat pemuda dan pemudinya ” . Kenyataan ini memang tidak dapat dipungkiri lagi karena kekayaan sebuah negara bergantung pada remaja itu sendiri. Remaja sebagai generasi muda sangatlah penting untuk kelangsungan pembangunan Negara ini. Runtuhnya remaja maka akan runtuhlah suatu negara.

Anak-anak remaja banyak yang mengganggap apabila berkendara dengan mematuhi tata tertib lalu lintas dianggap kampungan padahal sebenarnya mereka tidak berpikir luas dan kedepan akan bahaya dan dampak yang akan dialami apabila melanggar lalu lintas. Karena, sejatinya peraturan dibuat untuk ditaati bukan dilanggar. Namun, paradigma masyarakat yang salah kaprah memutar balikkan slogan sehingga menjadi doktrin dan kemudian membudidaya menjadi watak yang sulit untuk dirubah, yaitu “Aturan dibuat untuk dilanggar”. Paradigma dan pemikiran masyarakat sudah sangat salah kaprah, mereka menganggap bahwa peraturan tidak penting untuk ditaati.

BACA JUGA:   Hasil Liga 3, Gasiba Bulukumba Tahan Tuan Rumah PS Nemal Sidrap

Dalam melestarikan tertib berlalu lintas diperlukan kerjasama antara semua pihak demi terwujudnya Keamanan, Keselamatan, Ketertertiban dan kelancaran berlalu lintas.

Penulis adalah Pemerhati Keselamatan Transportasi berdomisili di Kabupaten Jeneponto,Sulsel.

Pos terkait