Tes keperawanan polwan Indonesia sorotan media internasional

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

LONDON,BB – Indonesia kembali menjadi bahan berita dari media internasional. Kali ini menjadi sorotan media adalah tes keperawanan bagi semua calon anggota polisi wanita (polwan) di Indonesia.

Seperti yang dilaporkan media ternama di Inggris, Dailymail.co.uk yang menyebut tes keperawanan di Indonesia sungguh menyakitkan bagi calon pengayom masyarakat itu. Bukan hanya itu, laporan tersebut juga menyatakan bahwa tes keperawanan ternyata menimbulkan trauma bagi peserta yang ikut tes polisi.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:   Wah, Giliran Foto Hot Polwan Lampung Beredar

Berita Daily Mail, Selasa 18 November itu melansir laporan hak asasi Human Rights Watch (HRW), yang menyatakan perempuan di Indonesia yang ingin menjadi polisi dipaksa mengikuti tes keperawanan. Tahun ini peserta ujian masuk mencapai 7.000 perempuan dari seluruh provinsi. Beberapa persyaratan itu misalnya harus berusia antara 17-22 tahun, beragama, tinggi sekitar 165 sentimeter, tidak berkacamata, dan perawan.

“Aku merasa malu, gugup, tapi aku tidak bisa menolak,” kata salah satu peserta yang mendaftar menjadi Polwan pada 2013 kepada HRW. “Jika saya menolak, saya tidak bisa menjadi seorang polwan.” Direktur Asosiasi Hak Asasi Perempuan HRW, Nisha Varia mengatakan Polri menggunakan tes keperawanan untuk mendiskriminasi, melakukan kekerasan, dan menghina martabat wanita.

BACA JUGA:   Pejabat Polda Diduga Sebar Foto Syur Polwan Lampung di FB

“Yang tidak lulus tes ini langsung diusir. Tes ini juga amat menyakitkan dan membuat trauma,” kata dia. Menanggapi soal tes itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Ronny F Sompie membantah, praktik itu masih dilakukan hingga saat ini. Kata dia, seleksi dilakukan antara lain pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh untuk lelaki dan perempuan. Termasuk pemeriksaan organ reproduksi. “Jadi bukan tes keperjakaan atau tes keperawanan,” tegasnya. Selain Daily Mail, majalah Time dari Amerika Serikat juga mengangkat isu serupa. (dailymail.co.uk)

  • Whatsapp