Petani Bubar Setelah Dua Hari “Berkemah” di Gedung Rakyat

oleh

BULUKUMBA,BB – Ratusan petani yang bertahan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bulukumba sejak hari Buruh 1 mei 2013 lalu, akhirnya membubarkan diri.

Para buruh dan petani ini menduduki gedung rakyat Bulukumba itu untuk menuntut pembebasan tanah yang masuk di areal hak guna usaha (HGU) PT London Sumatera (Lonsum).

Loading...

Sebeumnya mereka mendirikan puluhan tenda besar untuk menampung ratusan buruh petani yang menginap selama dua hari. Pemandangan saat siang dan malam di Gedung DPRD saat itu bak perkemahan yang sangat meriah.

“Awalnya saya kira perkemahan. Tapi pas saya liat kemarin di dalam ternyata kebanyakan orang tua dan nenek-nenek,”kata Sumi, warga Jalan Sultan Hasanuddin, yang ditemu saat melintas di depan gedung DPRD.

Memang aksi buruh tani ini kebanyakan diikuti warga yang sudah berkeluarga berasal dari 11 Desa. Mereka pun ikut membawa sanak keluarga ikut berdemo demi keamanan jika anggota keluarganya ditinggal di desa.

“Maumi diapa demi menuntut hak, saya rela bawa istri dan anak bermalam di sini,”tegas Noheng, seorang pendemo yang ditemui BeritaBulukumbacom di lokasi tenda kemarin.

Menurut kordinator aksi dari aktivis Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Bulukumba, Rudi Njet, para pendemo membubarkan diri setelah mendapat dukungan dari semua anggota DPRD Bulukumba.
Menurutnya, anggota dewan sudah menandatangani petisi kesepahaman untuk membebaskan tanah warga dari HGU PT Lonsum.

“Kesepakatan sudah dilakukan tadi malam (Kamis 2 Mei 2013). Setelah difasilitasi Kapolres, Ketua DPRD Hamzah Pangki menemui pendemo untuk ikut memberi dukungan,”katanya.

Sebenarnya, aksi ini sudah berakhir sejak kesepakatan Kamis malam, namun menurut Rudy, demi keamanan warga saat perjalanan pulang, pembubaran ditunda hingga Jumat pagi.

“Kami sudah pulang sejak pagi sekitar jam 7 tadi. Sebenarnya kesepakatan demo berakhir mulai tengah malam tadi,”kata Rudy.

Meski aksi demo berakhir, Rudy mengaku tetap menggalang dukungan guna pembebasan lahan petani. Mereka akan tetap melakukan komunikasi dengan sejumlah organisasi dan pemuda agar menguatkan petani miskin yang haknya masih dirampas.

“Saat ini kita akan langsung melakukan evaluasi. Kita tidak akan diam setelah sepekatan ini,”tegas Rudy.

Menurut data AGRA, aksi buruh kemarin diikuti oleh kurang lebih 2.300 orang. Mereka datang dari 11 Desa masing-masing Tamatto, Situbaru, Bontomangiring, Bontobiraeng, Karassing, Maleleng, Tambangan, Bontobaji, Bontorannu, Sangkala dan Balleanging.

Aksi ini mendapat pengawalan ketat seratusan aparat kepolisian dan TNI. Polres Bulukumba menurunkan 50 personel, Polres Bantaeng dan Jeneponto masing-maing 1 Peleton yang berjumlah sekitar 65 personel serta bantuan anggota TNI.

Laporan: CR7/MJ

Loading...