Ustad Syamsi Ali Berdakwah di Depan Tiga Presiden AS

  • Whatsapp

image

Ada yang menarik dari ustad Syamsi Ali. Meski telah mengislamkan ribuan non muslim di benua Amerika dan Eropa tetap saja ada yang nyinyir. Kenapa? beliau dianggap tidak layak jadi Imam Masjid oleh warga Arab di AS, karena katanya non Arab tidak layak mengimami muslim Arab. Ia bukan hanya tidak berjenggot, tapi malah pelihara kumis. Ia tidak mengenakan jubah apalagi surban, sebagaimana umumnya imam-imam masjid besar. Ia juga dituding anggota FBI dan kaki tangan AS yang karena sikap kerasnya terhadap gerakan-gerakan intoleran dianggap menghambat dakwah Wahabi di AS.

Keakrabannya dengan tokoh-tokoh agama non Muslim, termasuk Rabbi Yahudi, bahkan sampai menulis buku bersama, menjadikannya ia disebut sebagai agen Zionis. Kebiasaannya berceramah di Gereja dan menyampaikan Islam di pertemuan-pertemuan Kristiani, membuatnya dituduh melakukan gerakan pemurtadan terselubung. Bahkan pembelaannya terhadap Syiah, membuat dia dimusuhi kelompok takfiri dan akhirnya rela menyerahkan jabatannya sebagai Imam Masjid ICC New York, demi konsistensinya mendakwahkan Islam yang ramah dan bersahabat bagi semua orang yang mencintai perdamaian. Baginya, jabatan dan kedudukan bagi seorang dai tidaklah penting, yang terpenting adalah tetap memegang teguh kebenaran yang diperjuangkannya.

Ia pernah dikecam habis-habisan oleh kelompok muslim radikal, karena ia mengizinkan ruang bawah tanah masjid untuk dijadikan latihan band anak-anak muda muslim NY. Menurut ustad lima anak ini, itu lebih bisa mengajak anak-anak muda tersebut shalat berjamaah di masjid setiap waktu shalat tiba. Sikap tolerasinya yang tinggi terhadap non muslim dan kedekatannya dengan anak-anak muda AS, membuat seorang ulama Afrika Selatan sampai memfatwakan keharaman untuk hadir dimajelis ceramah-ceramahnya dan menjadi makmum dalam jamaah yang diimaminya.

Ia tidak bergeming dari jalan dakwah yang dipilihnya. Ia tetap mengembangkan dakwah dengan caranya yang inklusif, toleran, ramah dan penuh persahabatan menjadikan dakwahnya disukai baik oleh muslim Indonesia di AS, maupun warga muslim asing dan AS sendiri termasuk oleh komunitas non muslim. Pelan-pelan, lewat keterbukaan dakwahnya, Islam mulai diterima di AS dan tidak lagi dipandang sebagai agama teroris pasca tragedi WTC 11 September 2011 yang menyisakan traumatik yang mendalam bagi warga AS.

BACA JUGA:   Video Klip Lesti - Egois (2016)

Ia menulis buku, “Menebar Damai di Bumi Barat” satu dari empat bukunya. Ia mengisi dialog-dialog antar agama diseantero Eropa dan Amerika. Ia perkenalkan Islam yang mampu hidup bersama membangun peradaban yang lebih manusiawi dengan penganut agama apapun. Di Indonesia ia tidak begitu dikenal, Fanspagenya saja, hanya dilike 16 ribu orang, kalah jauh dari pencapaian FP Jonru yang dilike sampai 600 ribu orang. Tapi keduanya memang tdk bisa dibandingkan, Ustad Syamsi Ali [oleh media Barat ia disebut Imam Shamsi Ali] telah mengislamkan ribuan non muslim, sementara Jonru malah mengkafirkan kurang lebih 200 juta muslim karena kengototannya menyebut Syiah itu bukan muslim, sambil menutup mata, ratusan ribu umat Syiah naik haji tiap tahun ke tanah suci Mekah. Wikipedia Indonesia menceritakan tentangnya, tidak lebih dari 3 paragraf, tanpa satupun foto, tanpa sumber rujukan, hanya dibuat ala kadarnya. Tidak sebagaimana Wikipedia berbahasa Inggris yang menyajikan profilnya secara detail, dari mulai kelahiran, riwayat pendidikan, karir dakwah sampai penghargaan-penghargaan internasional yang diraihnya dengan 25 sumber rujukan media nasional maupun asing.

Dengan tubuhnya yang kecil, ia memang tidak merasa perlu membesar-besarkan diri atas kerja-kerja dakwah yang dilakukannya. Tapi warga Indonesia di AS sangat tahu itu. Dia diberi gelar yang sangat prestesius, IMAM BESAR. Ia tetap sosok yang rendah hati, setiap pulang kampung, ia senyap dari pemberitaan, kalaupun muncul, itu karena namanya disebut sebagai pembicara sebuah seminar atau acara-acara yang membedah bukunyadi kota. Itupun masih kurang populer dari Ust. Felix Siaw. Padahal di AS, Koran-koran yang memuat artikel Islamnya laku keras bak kacang goreng. Ia tidak melupakan kampung halamannya di tanah Kajang, Bulukumba, Setiap pulang, ia tetap bersedia menjadi imam masjid kampung dan berceramah dengan bahasa Bugis untuk masyarakat di tanah kelahirannya. Ia tetaplah Utteng [nama kecilnya] yang dulu dikenali teman-teman masa kecilnya. Tidak ada kebanggaan intelektual sama sekali. 
Ia bisa saja menjadi sangat kaya jika mau dan memamerkannya. Tapi ia tetap hidup sederhana. Ia tidak pernah berpose menaiki moge, atau bercerita ke media bagaimana rasanya menunggagi Lamborghini saat diundang berceramah. Tapi dialah yang pertama bahkan satu-satunya dai Indonesia yang menyampaikan dakwah Islam secara langsung, dihadapan tiga presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, George W Bush dan Barack Obama. Dia dai Indonesia pertama yang muncul dan diwawancarai di sejumlah stasiun TV Internasional, di ABC, PBS, BBC World, CNN, Fox News, National Geographic, al-Jazeera, dan Hallmark Channel. Artikel-artikelnya mengenai Islam dimuat di Koran-koran terkemuka Amerika. Ia didaulat sebagai tokoh muslim paling berpengaruh di kota New York oleh New York Magazine pada tahun 2006. Tidak cukup dengan itu, ia termasuk dari 500 tokoh paling berpengaruh di dunia, selama 3 tahun berturut-turut, 2009 sampai 2011 versi Universitas Georgetown.

BACA JUGA:   Internet BRI Banking Manjakan Nasabah

Saat ini, tiba-tiba ia diperbincangkan di Indonesia. Bukan karena ia baru saja mengislamkan non muslim, tapi karena ia mendapatkan ancaman somasi dari Fadli Zon, wakil ketua DPR RI yang terhormat. Kritikannya terhadap kehadiran sejumlah petinggi DPR RI di konferensi pers Donal Trump yang mengkampenyakan dirinya sebagai bakal calon Presiden AS tentu sangat beralasan. Dukungan terhadap Donal Trump, akan meruntuhkan dakwah Islam di AS yang selama ini dirintis dan dibangunnya. Donal Trump bukan saja berbisnis dibidang real state  namun juga perjudian. Sebagai raja judi di AS, tentu akrab dengan bisnis minuman keras, wanita penghibur dan sekelasnya. Sementara itulah yang ditentang dan dilawan Ust. Syamsi Ali sejak memulai dakwahnya di AS tahun 1996. 

Bukan hanya itu Donal Trump juga anti Islam. Ia sering mengeluarkan pernyataan yang memicu kontroversial dan menyakiti hati umat Islam. Bahkan pada tahun 2015, Trump dianugerahi “Liberty Award” pada acara “Algemeiner Jewish 100 Gala” sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi positifnya dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Israel.Mengharapkannya menjadi Presiden AS adalah mimpi buruk bagi dakwah Islam di AS. Ustad Syamsi Ali berteriak keras di media, ia protes, bukan karena hendak merusak karir politik Fadli Zon, ia bahkan bukan seorang politisi, tapi karena dakwahnya diusik. Mengiyakan rakyat Indonesia menyukai Donal Trump adalah kesalahan fatal yang tidak hanya cukup dengan meminta maaf saja.

Ustad Syamsi Ali tidak ingin populer melalui polemik, tidak sebagaimana aktivis dakwah online yang hari ini membanggakan likers FPnya yang telah menembus angka 600 ribu karena keberhasilannya membuat sesuatu yang kontroversi. 16 Jam lalu dari tulisan ini dibuat, ustad Syamsi Ali menulis pesan di FPnya:

BACA JUGA:   Ria Mulyaningsih, pemenang undian 1 miliar dari Yamaha

Dear teman-teman, kalau dalam bahasa Al-qurannya: “maa alaika illal balaagh” (kewajiban kamu hanya menyampaikan saja). Dan “alaa fahal qad ballaghtu” (ya Allah tidakkah saya sudah sampaikan)?

Selebihnya biarlah Allah yang menilai, lalu juga masyarakat menilai apa sesunguhnya di hati dan pikiran kita masing-masing. Ketika berkata, bersikap, bagi seorang yang beriman dengan Allah, semua itu akan dipertanggung jawabkan.

Saya mau hentikan ini karena terlalu banyak dukungan, bahkan pujian. Khawatir niat saya bergeser dari keinginan memperbaiki ke keinginan membusungkan dada dan merendahkan orang lain.

Untuk itu, dengan ini saya nyatakan masalah ini saya akhiri. Insya Allah semangat amar ma’ruf nahi mungkar takkan surut. Untuk saat ini saya khawatir jika hati ini terjangkiti penyakit riya….

Ini juga bukan sekedar diskusi untuk menang-menangan. Tapi untuk menjadi pelajaran untuk kita semua melangkah ke depan yang lebih baik.

Terima kasih kepada semua yang telah mendukung langkah saya. Dan maaf kepada siapa saja yang kira-kira karena apapun kurang berkenang dengannya.

Sekali lagi saya bukan politisi dan tidak punya kepentingan politik apa-apa. Saya hanya ingin melihat bangsa dan negara saya maju, kuat, sehebat bangsa-bangsa besar lainnya.

Perjuangan masih panjang!

Terima kasih dan wallahu ya’fu an katsiir!

***

Iya benar ustad, banyaknya dukungan dan pujian bukan untuk dibanggakan dan dirayakan, bukan pula untuk dibuatkan branding khusus untuk dipamer-pamerkan. Banyaknya pendukung dan pemuji bukan untuk dimenang-menangkan. Ia justru menjadi ujian, apakah pendukung itu bisa diajak untuk mengembankan dakwah Islam yang cinta damai atau untuk diajak saling membenci satu sama lain.

Perjuangan masih panjang. Masih banyak yang belum mengenal Islam dengan baik. Termasuk masih banyak dai yang memperkenalkan Islam justru dengan cara-cara yang tidak baik. 

Sesama warga Bulukumba, saya ingin suatu hari bertemu di masjid kampung di Butta Panrita Lopi, mencium tanganmu dan menimba ilmu banyak darimu.

PENULIS: Ismail Amin, WNI sementara menetap di Qom Iran.

Pos terkait