Pasien Meninggal, Keluarga Duga RSUD Bulukumba Salah Prosedur

oleh

aulia-wafat
BULUKUMBA,BBOnews.com — Aulia bocah 7 tahun kini telah tiada. Nyawanya tak dapat ditolong setelah sempat mendapat perawatan di empat fasilitas kesehatan berbeda.

Aulia mengalami kecelakaan pada Kamis 22 September 2016 sepulang sekolah di Balangliri, Desa Bonto Minasa Bulukumba, Sulsel. Peristiwa yang tak diharapkan semua orang terjadi. Bocah malang ini ditabrak sepeda motor hingga kepala bersimbah darah. Orang tuanya yang membawa ke Puskesmas Tanete merasakan sedih setelah mendapat kabar anaknya patah tulang tangan dan kaki.

“Gampangmi urus masalah tulang tangan dan kaki yang patah, cuma saya khawatirkan kalau ada bagian kepala atau dalam tubuh yang berisiko makanya harus dicari tahu dulu,” ujar Rosdiana menirukan ucapan dokter Puskesmas Bulukumpa. Pihak Puskesmas Tanete merujuk Aulia yang masih tidak sadar ke RSUD Sultan Daeng Radja. Di RSUD, orang tua korban, Rosdiana, merasa kecewa. Pihak RSUD tidak memaksimalkan penanganan darurat kepada putrinya yang mengalami pendarahan di kepala. Malah, kata Rosdiana, menyalahkan manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sulthan Deang Radja, Bulukumba.

Bukannya diberi pertolongan perawatan kepada kepala yang terus mengeluarkan darah, Pihak RSUD malah mengoperasi kaki dan tangan yang patah. Seharusnya, kata Rosdiana, pihak RSUD tidak hanya mengejar dana jasa saja tanpa memperdulikan keselamatan pasien,

Iklan
karena sudah kewajiban pelayanan kesehatan untuk mengutamakan keselamatan dari pada honor semata. Contohnya dari Bedah RSUD, Analisis yang langsung mengoperasi kaki dan tangan.

Bahkan Aulia dibiarkan dirawat dan bermalam tanpa ada tindakan medis untuk mengetahui penyebab pendarahan kepala. Pada Jumat malam Aulia akhirnya dirujuk ke RS Bunda Makassar. Lagi-lagi, RS tersebut merujuk ke RS Wahidin untuk pendapat fasilitas lebih lengkap. Hasil diagnosa dokter menurut Rosdianan, benar ada patah tulang di bagian leher yang tidak diketahui RS sebelumnya. Sempat dirawat sehari, akhirnya Aulia menghembuskan nafas terakhir Minggu 25 September 2016.

“Seandainya cepat dirujuk ke Makassar mungkin anakku masih bisaji pergi sekolah nanti. Coba kasian cepat dibawa ke Wahidin janganmi menginap di RSUD. Sseharusnya cepat dirujuk karena tidak lengkapji juga alatnya, baru beberapa kali dikasi masuk djarum infus, bengkok semua, ini tanda tidak profesionalnya pelayanan kesehatan RSUD,”rintihnya kepada beberapa Jurnalis, sambil menangis, Senin (26/9/16) usai pemakaman.

Direktur RSUD Bulukumba Sulthan Daeng Radja Bulukumba, dr. Wahyuni, tak menjawab pertanyaan jurnalis dengan alasan sedang melaksanakan rapat. Dia mengaku jika mengeluhkan pelayana RSUD untuk langsung melaporkan dipusat layanan saja, agar secepatnya diperbaiki. “Melapor saja ke unit aduan nanti kita konfirmasi,”singkatnya.

Iklan