Apalagi Itu No Bra Day, Kata Dai Bukan Budaya Indonesia

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Cantik dengan hijab
Cantik dengan hijab

MAKASSAR,BBOnews.com — Jangan berharap hari ini Anda akan melihat perempuan di jalanan tanpa memakai bra alias kutang. Hari Tanpa Kutang (Bra) atau No Bra Day memang diperingati hari ini oleh sejumlah perempuan di beberapa negara.

Terutama negara di Eropa dan Amerika. Bagi sejumlah negara timur seperti Indonesia, No Bra Day tidak banyak direspon. Apalagi di Sulawesi Selatan. “Ini (Hari Tanpa Bra) apalagi. Semakin aneh peringatan-peringatan dari luar. Bukan budaya kita di Indonesia,”ungkap Putri Liani, salah seorang mahasiswa Kedokteran di Makassar.

Bacaan Lainnya

Meski demikian beberapa netizen membagikan info hari tersebut. Menurut situs Wikipedia, sejarah peringatan No Bra day atau Hari Tanpa Bra dimulai tahun 2011. Sedikitnya 30 negara di seluruh dunia merayakan hari pembebasan payudara alias ‘No Bra day’ selama 24 jam untuk meningkatkan kesadaran kesehatan payudara. “Kampanye No Bra Day atau semacamnya hanya akan merusak moral dan menciptakan aksi asusila,”tambah Umar, salah seorang netizen.

Dai muda Bulukumba, Ust Ikhwan Bahar, turut mengajak umat islam khususnya kaum muslimah untuk tidak ikut dengan peringatan ini. “Islam adalah agama rahmat, yang mengedepankan akhlak dan etika. Keberadaan 13 oktober sebagai No Bra Day yang diperingati orang tertentu adalah bentuk penistaan nilai kemanusiaan dan keagamaan,”tegasnya.

Lebih jauh pengajar dan pengasuh salah satu pondok pesantren ini mengatakan jika manusia sebagai makhluk terhormat dan tidak mau disebut binatang. Maka jangan adopsi atau ikut-ikutan memperingati Hari yang tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai Islam serta budaya Indonesia. Hari Tanpa Bra tak lebih hari yang menjerumuskan generasi muda, khususnya wanita agar memperlihatkan auratnya. Tinggalkan hari yang tidak penting itu. Sementara islam melalui Alquran dalam surah Al Ahzab sudah memerintahkan wanita muslimah agar menutup auratnya dengan hijab.

“No Bra Day adalah bentuk propaganda pengrusakan moral yang dihembuskan untuk merusak generasi kita,”tutup salah seorang dosen di Stikes Panrita Husada Bulukumba ini.

  • Whatsapp