RSUD Bulukumba Bantah Ada Pasien Meninggal Over Dosis

178 views

BULUKUMBA, BB – Menanggapi pemberitaan media, terkait kematian Umar (45), warga Desa Bontomanai Kecamatan Rilau Ale Kabupaten Bulukumba, yang sempat di rawat di rumah sakit. Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba angkat bicara dan membantah bahwa kematian korban akibat over dosis obat tidak benar, hal itu disampaikan oleh dr. H. Abdur Rajab H, MM plt. Direktur rumah sakit.

“Tidak benar bahwa pasien meninggal karena over dosis obat, tindakan yang diberikan oleh petugas medis (dokter, perawat) sudah tepat sesuai dengan SOP penanganan penyakit tetanus” ujarnya. Pada kesempatan yang sama, Gumala Rubiah Kasubbag Humas Rumah Sakit, menjelaskan jika tetanus yang diderita oleh bapak Umar, masa inkubasinya tergolong cepat kurang lebih 8 hari dan sudah menyerang sistem saraf spinal ke otak sehingga menyebabkan gejala kaku kuduk hingga akhirnya kejang, makin pendek inkubasinya prognosis penyakitnya semakin jelek.

“Dokter RSUD sudah melakukan tatalaksana kejang sesuai protap dengan memberikan obat anti kejang, anti biotika dan tetagram. Adapun tetagram sudah diberikan sesuai dosis dan metode yang tepat, jadi tidak benar statement dari istri almarhum kalau pasien disuntikkan obat percobaan”tegas Mala sapaan akrab Gumala Rubiah.

Intinya, tambah Gumala, perawatan tetanus selain obat-obatan adalah perawatan isolasi dengan mengurangi rangsangan apapun termasuk cahaya, suara, pengaruh lingkungan lainnya agar tidak terjadi kejang. Namun sangat disayangkan pihak keluarga korban tidak mengindahkan hal ini. Kunjungan dibatasi, namun malah pihak keluarga menghadirkan dukun dengan memberikan stimulus yang memberikan rangsangan kejang, hal ini disaksikan oleh perawat yang memberikan layanan.

Agar kasus seperti itu terjadi lagi, Mala juga menghimbau, bila tertusuk sesuatu untuk segera meminta suntikan anti tetanus di tempat pelayanan kesehatan terdekat. “Jangan nanti ada gejala infeksi baru meminta pertolongan” ucapnya. (PR)

RSUD Bulukumba