Operasi Zebra Menelan Korban Jiwa, 12 Orang Diperiksa Propam

oleh

Bulukumba, Beritabulukumba.com – Kepolisian Resor Bulukumba, Senin, 6 November kemarin memeriksa 12 saksi atas kasus dugaan penganiayaan Zainal Abidin oleh kepolisian yang berbuntut pada kematian, saat digelar operasi Zebra di Jl. Dato Tiro, Lingkingan Tabbuttu, Kelurahan Kalumeme, Kecamatan Ujung Bulu. Kepolisian akan mencari kebenaranya dan bila terbukti tersangka akan diproses hukum yang berlaku.

Waka Polres Bulukumba, Kompol Syarifuddin yang dikonfirmasi mengatakan saat ini Kepolisian malui Propam (Profesi dan Pengamanan) telah memanggil 12 saksi yang terdiri kepolisian dan beberapa masyarakat yang saat itu berada dilokasi kejadian.

“Kasus sudah ditangani oleh Propam, kita tunggu saja hasilnya,” ujar mantan Kabag Ops Polres Bulukumba itu.

Syarifuddin mengaku, belum bisa berbicara terlalu jauh terkait adanya dugaan penganiayayaan oleh anggotanya, namun yang pasti jika terbukti bersalah, proses hukum akan dilaksanakan dengan mengajukan pidana pada tersangka berdasarkan UU yang berlaku.

Anggota Komisi, A, DPRD Bululumba, Ahmad Sulthan mengaharapkan kepolisian secepatnya menindaki kasus ini demi kestabilan daerah, yang dia takutkan jika lama akan ada tindakan dari masyarakat dari buntut dugaan kejadian penganiayaan oleh kepolisian yang bertindak refresif saat menggelar operasi zebra.

Polisi sebagai pengayom, seharusnya memberikan perlindungan, tidak melakukan tindakan melawan hukum sebagai teladan bagi masyarakatnya, dengan adanya kejadian seperti ini, mosi tidak percaya kepada polisi akan timbul, sehingga secepatnya penindakan pada oknum tersangka dilakukan.

“Indonesia adalah negara hukum, siapapun harus ditegakkan meski dia polisi. Meski sudah tugasnya untuk menegakkan hukum, namun seharusnya tidak bertindak arogan yang berbuntut kematian,” ujar Ahmad Sulthan.

Kasat Lantas Polres Bulukumba, AKP Muhammadi Muhtari yang dikonfirmasi awak media mengatakan dirinya bersama Kapolres Bululumba, AKBP, M.Anggi Naulipar Siregar bersama pejabat terasnya mengatar sekaligus mengikuti pemakaman jenasah almarhum Zainal Abidin di kampung halamanya di Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, sebagai rasa belansungkawa.

“Iya kami ada di Jeneponto, ini bentuk duka cita kami kepada keluarga,” Ungkap Muhammadi Muhtari.