Netizen Curhat Soal Pelayanan RSUD Bulukumba

oleh

Bulukumba, Beritabulukumba.com – Pelayanan RSUD Sulthan Dg Radja Bulukumba kembali menjadi sorotan publik. Curahan hati (curhat) masyarakat bermunculan pascaberedarnya surat terbuka dari keluarga pasien di media sosial facebook.

Melalui akun milik @Suparman yang merupakan paman dari pasien bernama Wina Rizkanevia (14), mengungkapkan kekecewaannya dengan pelayanan pihak rumah sakit setempat. Selain kurangnya informasi terkait penyakit sang ponakan, fasilitas rumah sakit pun dinilai tidak memadai.

Hingga sore kemarin, cuitan yang diunggah Jumat 10 November lalu itu sudah dibagikan lebih dari 90 warganet dan mendapat lebih dari 100 komentar. Beberapa warganet bahkan turut mengungkapkan pengalaman pahitnya ketika berobat di RSUD Sulthan Dg Radja.

Salah satunya akun @Wendi Ijok yang mengaku pernah mengalami nasib serupa. Dalam kolom komentarnya, ia mengaku pernah dirawat di RSUD Sulthan Dg Radja karena menderita usus buntu.

“…memang RS blk dari dulu ji bkn ji skr pelayanan nya bgitu sya sja bekas pasien nya usus buntu seandainya sya tdk keras mau di operasi tdk d lakukan di suruh sabar baru kita yg rasakan sakitnya luar biasa….” demikian penggalan komentarnya.

Pengalaman lainnya juga diungkapkan pemilik akun lainnya @Herlina Yanti. “Suamiq sj perna rasakanq itu pexkit usus buntu di surh mi puasa dari malam karn mauq di oprasi pagi terxta oprasix magrib itu lagi sy di suruh beli obat bius di luar sy keliling mencari tdk dapat2 jadi terpaksa sy menunggu sampai habis isya ada infor adi di apotik p***i padahal tadi sy dari apotik p***i di bilang habis jadi sy cuma diam,” tulisnya.

Begitupun dengan pemilik akun @Nanni Muharu. Menurutnya ada pelayanan yang berbeda diberikan pihak rumah sakit antara pasien BPJS Kesehatan dengan umum. “Betul z jga pernah rasakan,pasien yg lainx pke bpjs sedangkan z umum,kalau z panggil cepat tpi kalau yg pke bpjs yg panggil 2sampai 3 kali belum tentu dilayani,…” bebernya.

Lain lagi dengan pemilik akun @Isman Putra Dm yang mengaku anakya menderita luka bakar akibat kelalaian petugas rumah sakit. “…Anak saya ajjah yg baru lahir kakinya melepuh kena balon penghangat. Jd hati2ki saudara…,” tulisnya mengingatkan.

Sementara pemilik akun @Sudir Sac menceritakan peristiwa pahit yang dialami saat kerabatnya dirawat di rumah sakit setempat. “…sepupu istri saya jg mau melahirkan di rujuk dri puskesmas setempat smpi di rs blkumba,krn dia mau disesar akhirnya di suruh menunggu smpi jam 9 pagi,tpi smpi jm 3 sore belum ada dokter yg tangani.akhirnya anak yg di kandungnya kehabisan air ketuban dan meninggal…” ceritanya.

Lain hal dengan pemilik akun @Michael Alze yang membeberkan persoalan di internal rumah sakit. Dia menyinggung soal uang jasa dan gaji petugas medis yang belum terbanyarkan. “ANDA TIDA TAHU PENDERITAAN PERAWAT DI RSUD BLK, UANG JASA DAN GAJI TAK SEBERAPA KEMUDIAN SUDAH BEBERAPA BULAN INI BELUM TERBAYARKAN,” tulisnya.

“Jangankan pelayanan kepada pasien, KEPADA PERAWAT SAJA SUDAH BEBULAN BULAN UANG JASANYA BELUM TERBAYARKAN, ENTAH MENGENDAP KEMANA. BELUM LAGI POTONGAN SANA SINI, MAKANYA JANGAN BERHARAP DAPAT SENYMAN MANIS DARI PERAWAT YG ADA SENYUMAN MIRIS KODONG,” lanjutnya.

Bahkan Ketua Ombudsman RI Perwakilan Sulsel, Subhan Djoer melalui akun facebooknya meminta masyarakat melaporkan hal tersebut ke Ombudsman. “Laporkan kalo ada begini dek…. tdk sedikit dana habis di RS. itu… tp Pelayanan selalu sj masyarakat mengeluh… dmn jg itu Dewan Pengawas… apa kerjanya??”, tulisnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur RSUD Sulthan Dg Radja, dr. Radjab dalam rilisnya membantah keluhan keluarga pasien bernama Wina Rizkanevia (14). Dia menjelaskan, jika pasien masuk UGD dengan nyeri perut menurut dari dokter Puskesmas usus buntu kata keluarganya.

Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter UGD dan hasil pemeriksaan laboratorium tidak mengarah ke usus buntu sehingga dikonsultasi kepenyakit dalam dan sudah dirawat dan diberi pengobatan sesuai penyakitnya. “Hanya kolik abdomen dan pasiennya tidak mengeluh sakit dan dokter ahli tidak merasa perlu pemeriksaan USG. SPO sudah sesuai perosedur dan tidak membedakan pasien. Adapun pasien dititip sementara di ruang perawatan Kelas 3 karena keterbatasan kamar,” ungkapnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, pasien masuk IGD tanggal 9 Nopember 2017 pagi, setelah lengkap pemeriksaan dan konsultasi dokter ahli penyakit dalam, pasien baru dipindahkan keperawatan kelas 2 sekitar jam 15.00 sore hari. Lanjut dr. Radjab, sebagai bahan pertimbangan bila ada pertemuan IDI mohon disampaikan kepada para TS di Puskesmas agar tidak menjanjikan jenis- jenis pemeriksaan yang akan di lakukan di rumah sakit.

“Sering kita terjepit karena pasien memaksa untuk diperiksa ini dan itu sesuai pesanan dokter Puskemasnya, padahal tidak ada indikasi,” tegasnya.

Pihak dokter umum dan dokter spesialis RSUD H.Andi Sulthan Daeng Radja mengemukakan, pasien merasa tidak terlayani karena obatnya melalui infus yang diberikan sesuai intruksi dokternya. “Saat itu memang pasien bertumpuk di UGD sampai tidak ada lagi tempat tidur kosong. Sedangkan kamar yang layak pakai di perawatan juga penuh, pasien tidak bisa di bawa ke perawatan, semua stagnan di UGD. Daripada pasien harus bertumpuk di UGD atau tidur di lorong akhirnya kamar yang tidak layakpun (kamar mandi rusak) ditawarkan ke pasien dan keluarga pasien degan menggunakan toilet lain diluar kamar,” terang dr.Radjab.