Fakta Bayi Gizi Buruk di Bulukumba, Dapat Perhatian Setelah Kembarannya Meninggal

oleh
Kondisi Airin, saat diberi obat ibu wakil ketua TP-PKK Bulukumba, Siti Isniyah beberapa waktu lalu.

BULUKUMBA, BBC – Sejak dilahirkan enam bulan lalu, bayi penderita gizi buruk di kabupaten Bulukumba hanya diberi air tajin atau air rebusan beras oleh ibunya, Ani.

Hal tersebut adalah salah satu fakta dari Airin bayi penderita gizi buruk asal lingkungan Kalamassang, Kelurahan Mariorennu, Kecamatan Gantarang, Bulukumba.

Loading...

Saat ini Bayi berusia 6 bulan tersebut dirawat di perawatan Mawar kamar 205, RSUD Sultan Daeng Radja dan diberi perawatan khusus oleh dokter ahli anak.

Sejumlah fakta dan kejanggalan pun diungkap Ani, ibu Airin saat ditemui awak media beberapa waktu lalu. Itu menjawab pertanyaan yang berkembang luas di masyarakat tentang kemana perhatian pemerintah selama ini. Mengapa meski menunggu korban baru beramai ramai memberi perhatian.

Padahal jika melihat prestasi, Bulukumba sudah berulang kali menyabet gelar kabupaten sehat.

HIMPITAN EKONOMI

Himpitan ekonomi adalah kendala utama yang memaksa ibu umur belia itu memberikan bayinya air dari rebusan beras.

Suaminya, Wandi, juga tak bisa berbuat banyak. Ia hanya seorang buruh rumput laut yang penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari.

“Jangankan beli susu, untuk hidup sehari-hari saja pas-pasan ye,” ujar Ani di ruang perawatan.

LAHIR KEMBAR DI RSUD

Tak disangka, Airin ternyata lahir kembar di RSUD Sultan Daeng Radja, Januari Lalu. Berselang beberapa menit Airin lahir duluan disusul saudari kembarnya bernama Ainun, mereka lahir dengan kasus tidak cukup bulan. Saat lahir Airin hanya  berbobot 1,8 kg, sedangkan Ainun hanya 1,5 kg, angka tersebut rupanya jauh dari berat normal bayi lahir pada umumnya.

“Iye di sini (RSUD) lahir. Sempat dirawat juga,” akunya.

Namun entah karena faktor apa, Ani keluar Rumah Sakit saat itu, ia memilih enggan menjawab.

PASIEN BPJS MENUNGGAK

Alasan lain Ani tak membawa si kembar berobat, selain tak mampu membayar biaya rumah sakit, juga karena Kartu BPJS Mandiri miliknya telah menunggak berbulan-bulan.

Ani mengaku tak pernah terdata, apalagi untuk merasakan program gratis pemerintah. Padahal ia penduduk asli setempat.

“Tidak ada uangku. Saya juga tidak mampu beli susu formula karena asiku juga tidak keluar,” bebernya lagi.

TAK PERNAH IMUNISASI

Kasus bayi malang tersebut semakin menarik perhatian, anehnya sejak lahir si kembar tak pernah mendapatkan imunisasi dari petugas kesehatan setempat. Padahal saat hamil Ani tercatat dan memiliki buku panduan.

“Tidak pernah ada yang datang yek,” ungkapnya.

TERUNGKAP SETELAH KEMBARANNYA MENINGGAL

Lama kelamaan, kondisi si kembar semakin memburuk. Ani akhirnya berani membawa anaknya ke Puskesmas karena sudah tak tau harus berbuat apa. Sayangnya nasib tak memihak Ainun, ia menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis (12/7/2018) lalu, sesaat setelah dirujuk dari Puskesmas ke RSUD.

Setelah saudara kembar Airin meninggal, Ani mengaku tak peduli lagi soal biaya. Ia hanya berharap simpati banyak orang untuk meringankan bebannya. Dari situ terungkap Airin menderita Gizi Buruk.

AIRIN BERANGSUR MEMBAIK

Kini Airin telah di rawat oleh RSUD Sulthan Dg Radja Bulukumba dengan biaya yang ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Yang terbaru keluarga tersebut sekarang sudah memiliki fasilitas kartu identitas dan kesehatan baru.

Untuk kondisinya sendiri, saat ini bayi mungil itu telah berangsur-angsur membaik. “Sudah mulai membaik, iritasi kulitnya sudah hilang dan berat badan sudah naik menjadi 3,6 kg,” kata Gumala, Kasubag Humas dan Promkes RSUD Sultan Daeng Radja, Selasa (17/07/2018).

Selain perhatian pemerintah, beberapa donatur juga terus berdatangan memberikan bantuan.

Loading...