Kerocky-rockyan dan Kegerung-gerungan

oleh -
Foto hanya pemanis. Suatu hari di #PustakaRumPut. Membaca buku tidak bertujuan untuk mahir membaca melainkan untuk menghasilkan pikiran-pikiran otentik.

Judul di atas bukan lucu-lucuan. Namun boleh juga dianggap sebaliknya. Tergantung interpretasi Anda saja. Paling tidak, judul di atas mencoba menggamit keseluruhan tulisan iseng ini. Namanya saja catatan tumit, sejenis catatan yang tidak penting, kecuali bagi Anda yang sedang mengolah pikiran. Jadi santai saja membacanya sambil menyeruput kopi atau sambil menonton musik dangdut di televisi. Itu jauh lebih asyik ketimbang menonton saluran berita yang hanya memihak salah satu paslon pilpres 2019.

Hari-hari ini sebuah kalimat dari Rocky Gerung sedang dibicarakan oleh publik, “Bila fiksi bisa berfungsi mengaktifkan imajinasi, maka kitab suci adalah fiksi.” Sayangnya, segolongan publik memenggal kalimat itu sehingga menjadi “kitab suci adalah fiksi”. Maka berurusanlah Rocky Gerung dengan hukum.

Membicarakan diksi “fiksi”, “imajinasi”, dan “kitab suci” maka tak ayal lagi kita harus melihatnya dari sudut pandang ilmu bahasa, salah satunya ilmu linguistik. Lalu salah satu cabang ilmu linguistik yang tepat untuk mengkajinya adalah linguistik murni, yakni morfologi. Itu jika hanya membicarakan asal katanya. Tetapi jika membicarakan konteksnya maka akan lebih luas lagi. Bisa dari sudut pandang semantik atau bisa pula analisis wacana.

Loading...

Arti kata hanya berarti makna atau inti sari dari suatu ungkapan. Makna kata bisa ditemukan dengan mudah dalam kamus monolingual. Membicarakan kamus berarti membicarakan terjemahan, karena kamus merupakan suatu bank data yang berisi teks yang diterjemahkan. Suatu teks dapat diterjemahkan kembali dalam bahasa yang sama.

Untuk mengetahui arti kata, maka kita dapat menggunakan kamus yaitu kamus monolingual. Dalam hal ini KBBI harus dibaca karena yang dibahas merupakan diksi berbahasa Indonesia. KBBI (2008:391) menjelaskan fiksi sebagai: Susastra, cerita rekaan (roman, novel, dsb). Arti lainnya, fiksi adalah: rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan. Arti lainnya lagi: pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pemikiran.

Berdasarkan pengertian tersebut maka kata fiksi merupakan kata benda yakni sesuatu baik yang berbentuk wujud atau berbentuk pernyataan yang diciptakan oleh seseorang hanya berdasarkan pada suatu pemikiran atau khayalan. Dalam ranah sastra berarti fiksi adalah karya yang dibuat bukan berdasarkan pada kisah nyata. Hal ini kita kenal juga sebagai karya sastra fiksi. Lalu fiksi juga berarti sesuatu tidak berwujud, bisa berupa suatu ujaran, tulisan, ungkapan, dan lain sebagainya yang bersfiat lisan atau tulis yang diciptakan hanya berdasarkan rekaaan.

Masih di halaman yang sama, KBBI menjelaskan, fiktif artinya adjektiva bersifat fiksi; hanya terdapat dalam khayalan.

Selanjutnya mengenai kitab suci. Pengertian kitab suci secara umum adalah sekumpulan teks yang disatukan ke dalam bentuk buku yang dianggap suci ataupun sakral oleh pembuatnya dan pemujanya. Kitab suci apa? Kitab suci itu banyak. Sedangkan Al Quran adalah KITAB ALLAH. Kalau ada yang secara spesifik menghina ayat Al-Maidah 51, ya pasti umat islam tersinggung. Marah. Karena di dunia ini Al-Maidah 51 hanya ada di dalam Al-Qur’an. KITABULLAH. KITAB ALLAH. Kumpulan dari Firman Allah, pedoman umat muslim. Hanya berisi WAHYU ALLAH, bukan ujaran Nabi. Bukan sekedar kitab suci yang bisa saja hasil karya manusia.

Kitab suci itu jenisnya ada ribuan di dunia ini. Jangankan agama dan kepercayaan, masing- masing ilmu saja punya kitab sucinya sendiri. Kaum komunis saja punya kitab-kitab suci. Salah satunya “Das Capital” karya Karl Marx. Banyak lagi lainnya, kitab-kitab suci komunis berdasarkan pemikiran Engels.
Agama sesatnya Lia Aminuddin misalnya, nabinya ya Aminuddin dan kitab sucinya adalah karyanya. Begitu juga Mushaddeq. Masih tersebar ribuan lagi buku yang diklaim sebagai Kitab Suci di dunia ini. Kitab suci ala David Koresh meramalkan datangnya hari kiamat dan menyebabkan pembantaian masal diri sendiri beserta pengikutnya. Juga ada ajaran kitab suci pendeta sesat David Brant Berg berisi tentang seks bebas ala kaum hippies dan pemberontakan kepada norma-norma masyarakat. Meski ia menamai sektenya Children of God, anak-anak tuhan.

Pada tahap ini saja kita hanya baru membahas diksi dari sudut pandang arti kata. Yaitu makna leksikalnya saja yang bertolak pada kamus. Makna ini menjadi acuan dalam penggunaan kata berbahasa Indonesia. Apakah arti kata saja itu cukup? Dalam sudut pandang linguistik murni yakni morfologi, maka pengertian di atas sudah dianggap cukup. Akan tetapi jika dilihat dari sudut pandang analisis wacana, tentu bisa saja berbeda. Jika ingin mengetahui secara gamblang dari suatu motif dari suatu pernyataan maka memerlukan analisis wacana kritis (AWK).

Jika membahas tentang pengertian, terutama pengertian suatu istilah ilmu tertentu, kita tidak bisa menggunakan pengertian dari suatu kata yang bersumber dari kamus sebagai dasar definisi atau dasar dalam kajian pustaka. Yang kita butuhkan adalah pengertian dari para ahli yang menjelaskan dalam teori yang tertulis dalam suatu buku atau jurnal.

Mengenai imajinasi, tentu saja sebagai manusia kita harus mengaktifkan imajinasi. Bagi Anda yang pernah atau sering membaca Al Quran, imajinasi Anda mungkin kadang melambung bahkan kerap jauh menuju masa yang miliaran bahkan mungkin triliunan tahun sesudah atau sebelum Masehi. Atau tentang alam raya maka imajinasi Anda mungkin melambung saat alam raya mulai diciptakan. Mungkin, triliunan tahun yang lalu.

Jika Anda membaca tentang akhirat, maka imajinasi bisa melambung, mungkin, miliaran tahun ke depan. Dengan demikian Anda selalu percaya, semua berawal dan berakhir kecuali Sang Maha Pencipta.

Jika Anda membaca tentang kisah-kisah para utusan-Nya, Anda pun berhak mengaktifkan imajinasi bagaimana tubuh dan wajah mereka. Misalnya Nabi Adam, Anda mungkin bayangkan, beliau bertubuh dan berwajah nyaris sempurna.

Albert Einstein mengatakan, imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan terbatas, sedangkan imajinasi seluas langit dan bumi. Einstein juga benar bahwa imajinasi tidak terbatas. Kita bahkan bisa membayangkan awal dan akhir alam raya ini meski kita bahkan bukan sekadar debu di dalamnya.

Butuh kesaksian dari banyak ahli bahasa, ahli filsafat, dan ahli agama dari masing-masing agama yang ada di Indonesia. Supaya fair dan adil. Jangan asal memotong kata, “Kitab suci adalah fiksi” lantas diperkarakan. Wilayah intelektual manusia harus terlibat, bukan wilayah intelektual berudu.(*)

Pelajaran moral:

  1.  Kesaksian seekor ahli bahasa dari bangsa udang menyatakan, istilah “perpatilan” tidak ditemukan dalam buku Kamus Besar Bahasa Udang.
  2. Bila udang bisa berfungsi mengaktifkan perpatilan, maka udang adalah senjata militer paling berbahaya.

* Penulis: Alfian Nawawi