Diplomasi Kebudayaan dari Bulukumba Bukan Nyuknyang

oleh -278 views

Musik -termasuk dangdut- memiliki kekuatan komunikasi yang mampu melebihi bahasa verbal. Musik mampu mencairkan berbagai kebuntuan. Lantaran penduduk bumi menyepakati musik sebagai bahasa universal, maka musik juga dipercaya sebagai kekuatan untuk mencairkan keadaan yang secara politis amat sangat tidak mungkin terjadi sekalipun.

Lantas, bagaimana dengan aksi infiltrasi para politisi melalui Sari dan Puput, dua delegasi asal Bulukumba di panggung LIDA Indosiar?. Sisi keuntungan politiknya niscaya terasa. Sisi positif pun menerpa Sari dan Puput. Nama Bulukumba lagi-lagi menasional. Banyak mimpi baru bermunculan ke permukaan.

Hanya saja di luar panggung LIDA, para politisi yang terlanjur hanyut dalam hiruk pikuk masyarakat yang mengelu-elukan Sari dan Puput, maka mesti membedakan antara dua macam buah durian. Yang satu beraroma tajam dan enak rasanya sedangkan yang satunya beraroma tajam namun tidak ada rasanya.

Loading...

Jika #LIDA2019 di Indosiar adalah juga media untuk diplomasi kebudayaan bagi daerah-daerah di Nusantara maka kemujuranlah buat Bulukumba. Melalui Puput dan Sari, Bulukumba bisa menampilkan sekujur potensi daerahnya. Mulai budaya, wisata, kuliner, sumber daya alam, hingga potensi SDM-nya.

Diplomasi kebudayaan secara makro merupakan propaganda yang dalam pengertian konvensional dapat dianggap sebagai bukan politik, ekonomi, ataupun militer. Puput dan Sari akan sangat mungkin menjadi simpul dalam diplomasi ini.

Puput dan Sari sama-sama anak Bulukumba. Puput dari Kota Bulukumba. Sedangkan Sari berasal dari Kecamatan Kajang. Semestinya memang tidak ada lagi polarisasi dukungan berdasarkan wilayah Timur dan Barat. Sudah saatnya kita berbicara satu Bulukumba. Meskipun tidak dapat dihindarkan terbentuknya dua kubu besar pendukung Puput dan Sari. Ada juga kubu penyeimbang, pendukung kedua-duanya. Kubu yang terakhir inilah yang rupanya belum menemukan bentuk konsolidasi yang ril.

Apapun yang ditemui Puput dan Sari di panggung Liga Dangdut Indonesia 2 di Indosiar, semestinya Bulukumba sudah menemukan formula pemersatunya. Paling tidak dalam bentuk solidaritas, dukungan vote, dan lainnya. Semua komponen tidak lagi harus terkotak-kotak pada dikotomi maupun polarisasi.

Bulukumba dikenal pula dengan Perda Syariah. Saya rasa juga belum terlambat untuk menitipkan hijab yang fashionable kepada keduanya yang memang sudah akrab dengan hijab di sekolahnya. Bukan alasan perda syariahnya, tapi lebih dari itu.

Sudah waktunya orang-orang di luar Bulukumba mengetahui bahwa Bulukumba bukan hanya Pantai Pasir Putih Bira, Perahu Pinisi, dan Suku Adat Ammatowa. Masih begitu banyak yang perlu dititip melalui Puput dan Sari. Jangan hanya menitipkan nyuknyang, penganan khas Makassar, misalnya. Bulukumba juga harus bisa menginfiltrasi melalui penganan atau kuliner tradisional yang memang khas asli Bulukumba seperti uhu-uhu, beppa cella, jipang, dan jagung marning. Siapa tahu ada juga yang ingat untuk menitip #kopikahayya, miniatur Pinisi, dan kain hitam khas Kajang?

Terserah tidak suka dangdut atau apalah. Namun saya menyarankan kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sulsel. Sesekali tidak digoyang oleh pilpres tapi digoyanglah oleh dangdut. Nontonlah selalu penampilan Sari dan Puput. Dukung dengan cara vote dan SMS. Kipakalohei kodong!

Pelajaran moral
Jika uhu-uhu adalah seorang gadis, seharusnya dia dirayu oleh Kopi Kahayya yang masih perjaka