Songkok Caleg

Banyak orang memakai songkok secara masif disebabkan tiga peristiwa penting. Pertama ketika sholat berjamaah. Kedua, lagi hadir di acara formal. Ketiga, sewaktu musim kampanye politik.

Salah seorang caleg dari Partai Seupil Ingus -sebut saja La Kumbala- sekarang rajin memakai songkok. Di warkop, acara deklarasi, diwawancarai wartawan, dan di manapun berada pasti La Kumbala memakai songkok. Bahkan sampai masuk kakus pun songkoknya tak pernah lepas. La Kumbala mewaspadai siapa tahu ada kamera CCTV di dalam kakus. La Kumbala tidak ingin ada rekaman videonya yang menampakkan kepalanya tidak bersongkok. Sebenarnya kepala La Kumbala tidak jelek-jelek amat sebab Si Amat saja tidak sejelek dia. Hanya saja di jidat La Kumbala terdapat tato wajah Lenin dan Stalin.

Strategi La Kumbala yang kakeknya terlibat pemberontakan PKI di Madiun itu diikuti oleh teman-temannya. Maka ramailah Partai Seupil Ingus dengan caleg bersongkok. Namanya saja Partai Seupil Ingus, pendukungnya di Republik Sabun hanya seupil. Para politisinya pun kebanyakan masih belum bisa buang ingus sendiri.

Lain halnya dengan La Berro dari Partai Ban Bekas. Parpol ini sejak lahirnya bernuansa islam. Namun gara-gara pimpinan partai mendukung capres petahana, banyak calegnya yang hengkang. Konstituen partai pun dipediksi jauh berkurang. La Berro tidak kehilangan akal. Dia memutuskan melepas songkoknya. Harapannya, dia bisa menggarap calon pemilih yang selama ini alergi terhadap songkok. Apalagi La Berro sebelumnya memang secara tidak sadar selalu memakai songkok yang sangat jarang dicuci.

Songkok yang sebutan lainnya peci atau kopiah merupakan pemandangan umum di Tanah Melayu sejak abad 13. Songkok adalah satu-satunya jenis penutup kepala yang paling nyaman bertengger di banyak kepala yang saling berbeda ideologi. Bisa nangkring di kepala seorang muslim, nasrani, atheis, dan komunis. Sebagai contoh, lihat saja Ruhut Sitompul dan Mukhtar Pakpahan. Keduanya non muslim namun suka memakai songkok. Bahkan Muso pemimpin pemberontakan PKI di Madiun juga selalu memakai songkok.

Songkok sebagai penutup kepala ketika melaksanakan sholat sangat identik dengan kaum muslim di Indonesia dan negara-negara rumpun Melayu lainnya. Ketika seorang non muslim bahkan atheis memakai songkok tentu saja tidak masalah. Bisa jadi mereka memakai songkok berdasarkan tradisi Melayu. Yang jadi masalah adalah ketika seorang non muslim ataupun atheis-komunis sengaja memakai songkok dengan tujuan mengelabui kaum muslim.

Di Eropa dan Amerika, kopiah atau peci itu disebut kufi, taqiyat, dan topi fez. Pada masa kolonial Belanda disebut Petje. Yaitu, dari kata Pet yang diberi imbuhan je. Sedangkan kopiah diadopsi dari bahasa Arab, kaffiyeh atau kufiya. Namun, wujud asli kaffiyeh berbeda dengan kopiah.

Sementara itu, songkok dalam bahasa Inggis dikenal dengan istilah  skull cap atau batok kepala topi, sebutan oleh Inggris untuk penggunanya di Timur Tengah. Di Indonesia dan negara-negara rumpun Melayu yang pernah dijajah Inggris, pelafalan kata ini bermetamorfosa menjadi skol kep, kep, dan kok. Lambat laun pelafalan itu pun sampai pada kata songkok.

Bung Karno adalah orang yang

Iklan Iklan
mempopulerkan peci Indonesia. Dalam banyak kegiatan kenegaraan, baik di dalam negeri maupun internasional, ia tak pernah melepaskannya. Di masa penjajahan, Ir Soekarno mengenakan peci sebagai simbol pergerakan dan perlawanan terhadap penjajah.

Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan. Di masa itu kaum cendekiawan pro-pergerakan nasional enggan memakai blangkon, misalnya, tutup kepala tradisi Jawa. Jika kita lihat foto Wahidin Sudirohusodo dan Cipto Mangunkusumo memakai blangkon, itu sebelum 1920-an.

Ada sejarah politik dalam tutup kepala ini. Di sekolah “dokter pribumi”, STOVIA, pemerintah kolonial punya aturan: siswa “inlander” (pribumi) tak boleh memakai baju Eropa. Lalu darimanakah asal usul peci atau songkok itu? Konon, peci dirintis oleh Sunan Kalijaga.

Pada mulanya beliau membuat mahkota khusus untuk Sultan Fatah yang diberi nama kuluk yang memiliki bantuk lebih sederhana daripada mahkota ayahnya, Raja terakhir Majapahit.

Catatan lain, ada pula yang berpendapat Laksmana Ceng Ho yang membawa peci ke Indonesia. Peci adalah Bahasa Cina, berasal dari kata Pe (artinya delapan) dan Chi (artinya energi). Sehingga arti peci itu sendiri merupakan alat untuk penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru angin.

Ada juga yang menyebutnya Songkok yang berarti “Kosong dari Mangkok.” Artinya, hidup ini seperti mangkok yang kosong. Maka harus diisi dengan ilmu dan berkah. Sementara kata Kopiah berasal dari “Kosong karena Dipuah.” Maknanya, kosong karena dibuang (dipyah). Apa yang dibuang? Kebodohan dan rasa iri hati serta dengki yang merupakan penyakit bawaan syaitan.

Jean Gelman Taylor, yang meneliti interaksi antara kostum Jawa dan kostum Belanda periode 1800-1940, menemukan bahwa sejak pertengahan abad ke-19, pria-pria Jawa yang dekat dengan orang Belanda mulai memakai pakaian gaya Barat. Menariknya, blangkon atau peci tak pernah lepas dari kepala.

Songkok atau peci atau kopiah adalah asli milik bangsa Melayu, termasuk Indonesia. Songkok pun identik dengan kaum muslim Melayu. Biarkan saja La Kumbala memakai songkok. Rakyat juga tahu, jangankan La Kumbala yang politisi, banyak tukang sabung ayam pun tak pernah melepaskan songkok di kepalanya. Sedangkan ketika La Berro melepas songkok, tentu rakyat tidak akan tahu, apakah La Berro memang sengaja menghilangkan simbol Indonesianya, atau bahkan simbol muslim Melayunya? Sebab, dengar-dengar, La Berro sekarang banyak bergaul dengan orang-orang liberal-sekuler dan komunis dari Partai Digigit Ikan Piranha.(*)

Pelajaran moral:
Songkok yang pas akan lebih terjamin kebersihannya di kepala kelelawar yang jumpalitan dibanding berada di kepala kodok yang suka berlompatan di kolam kotor.

Alfian Nawawi Caleg

Penulis: 
    author

    Posting Terkait