Tenggelamnya Kapal Mr. Jank Chukinov

Kisah tenggelamnya Kapal Mr. Jank Chukinov bukanlah fiksi seperti novel roman “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” karya Buya Hamka. Kapal Mr. Jank adalah sebuah fakta. Sebuah kisah tragedi kolosal. Ratusan tahun ke depan kisahnya masih akan dibicarakan dari generasi ke generasi.

Kisah diawali dari sekelompok bajak laut yang menguasai kapal secara konstitusional. Mereka mengangkat Mr. Jank sebagai boneka. Sekelompok penumpang lainnya dijadikan jongos.

Badai besar mengakibatkan kapal besar ini oleng. Satu-satunya pilihan logis bagi para penumpangnya adalah segera mengambil pelampung. Semua orang akhirnya tahu bahwa Mr. Jank hanya seorang boneka dari sekelompok bajak laut yang merupakan penguasa sesungguhnya.

Kebocoran terbesar terkini mencapai angka fantastis, 5,8 Trilyun! Tidak heran, pelakunya memang bajak laut, kader dari Partai Digigit Ikan Piranha.

Kapal yang badannya bocor di sana sini merupakan penyebab utama di awal-awal pelayaran ekspedisi besar selama lima tahun. Sayang sekali sebelum berlabuh kapal besar itu harus menerima nasib malang. Karam justru tidak jauh dari pantai.

Kredibilitas Sang Kapten dipastikan jatuh. Apalagi elektabilitas. Dia dianggap sudah tidak layak memimpin pelayaran. Terlebih lagi dia memiliki sedikitnya tiga riwayat penyakit

Iklan Iklan
akut kronis, yaitu penyakit “heranov, kagetov dan ngacirov.”

Karena Mr. Jank sejatinya adalah boneka dari para bajak laut yang menguasai kapalnya, maka wajar dia tidak mengerti etika pelayaran internasional. Bahasa Inggrisnya terlalu buruk untuk ukuran seorang kapten kapal. Dia tidak memiliki navigator ulung sehingga mengalami incomplete data. Sekali waktu sang kapten kepleset mengeluarkan kata, “Propaganda Beruang Merah.” Tentu saja Beruang Merah terusik.

Sang Kapten saat ini lagi panik. Grasa-grusu tak karuan. Menyerang membabi-buta ketika kapal tidak bisa lagi dikendalikan. Dia menjadi represif, bahkan diktator! Para oposisi diceburkan ke laut. Beberapa jongos ternyata juga banyak mempersulit kaptennya sendiri. Jongos-jongos spesialis tukang revisi! Sekaligus berspesies oportunis.

Ada pula salah seorang jongos yang tugasnya hanya monyong. Namanya Abu Gosok. Dia ternyata kordinator Seracun. Pantas sejak dulu para penumpang kapal sering semaput. Dia memimpin ribuan akun palsu di Facebook. Sebentar lagi akun-akun palsu itu akan bermutasi dalam sosmed paling mutakhir bernama Facebong.(*)

Pelajaran moral:
Bajak laut yang baik selalu merevisi bonekanya sendiri, terakhir akan membuangnya ke laut sebagai mangsa ikan piranha.

Amelia Alviani Mr. Jank Chukinov

Penulis: 
    author

    Posting Terkait