Sri Ayati, Chairil Anwar, Puisi, dan Radio

KETIKA menjadi penyiar radio, Chairil Anwar dikenal sebagai pengagum perempuan. Sebaliknya dia juga dikagumi oleh banyak perempuan. Berpuluh tahun kemudian, “tradisi” ini juga dilanjutkan oleh sebagian besar penyiar radio di zaman yang berbeda, dikagumi oleh banyak fansnya. Namun dalam berbagai kasus, penyiar juga sering patah hati.

Ada beberapa nama perempuan yang setidaknya pernah mengisi hati Chairil Anwar. Namun tidak semua perempuan dapat digaetnya. Salah satunya Sri Ayati.

Sri Ayati lahir di Tegal, Jawa Tengah, tahun 1919. Ketika umur delapan tahun, Sri Ayati diboyong oleh orangtuanya ke Jakarta dan tinggal di Gang Seha, Pecenongan, Jakarta Pusat. Sejak itu Sri Ayati juga merasa dirinya anak Betawi.

Sri Ayati bersekolah di MULO Jakarta. Setamat sekolah menengah, Sri melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dia suka ikut bermain sandiwara di Gedung Kesenian Pasar Baru. Sri bergabung dengan kelompok sandiwara pimpinan Usmar Ismail. Di sanalah Chairil berkenalan dengan Sri Ayati.

Sri menjadi #penyiar di #radio Jakarta Hoso Kyokan. Lantaran sebagai penyiar itulah, Sri Ayati jadi mengenal baik Chairil Anwar yang juga bekerja sebagai penyiar di radio yang sama. Radio itu menggantikan NIROM, radio milik Belanda yang ditutup. Kini Jakarta Hoso Kyokan bernama Radio Republik Indonesia (RRI) di Jalan Merdeka Barat. Sri Ayati bermukim di Jalan Kesehatan V. Beberapa kali Chairil Anwar bertandang ke rumah Sri Ayati.

BACA JUGA:   Buku-buku "Terkutuk"

Suatu hari Sri Ayati berada di rumah. Datanglah Chairil Anwar, dengan rambut yang awut-awutan khas seniman. Ia duduk di lantai sebelah kursi yang diduduki Sri Ayati. Ketika ditanya apa maksud kedatangannya, Chairil bercerita bahwa dia baru saja mengunjungi seorang gadis yang bernama Sri. Sambil menunjuk pakaian Sri, Chairil mengataan kalau Sri yang ditemuinya juga memakai housecoat (daster) sama seperti yang dikenakan Sri Ayati. Padahal yang dimaksudkan Chairil, Sri yang ia sebutkan tak lain adalah Sri Ayati sendiri.

Perasaan Sri Ayati biasa-biasa saja walau Chairil sering datang bertamu ke rumahnya. Hubungan perkawanan mereka hanya sebentar. Tatkala dalam kesempatan Chairil datang seperti hari-hari kemarin, Sri berpesan agar sejak saat itu Chairil tidak usah atau jangan lagi datang ke rumahnya. Sri mengaku sudah bertunangan dengan seorang dokter.

BACA JUGA:   Perang Total Versus Perang Badar

Pengakuan Sri Ayati membuat Chairil mundur teratur. Membawa hatinya yang patah Chairil berjalan-jalan ke arah utara, menuju pantai. Sampailah ia di pelabuhan Sunda Kelapa. Ia melihat suasana muram di sana sebagaimana hatinya. Di hadapan laut Chairil menulis puisi:

SENJA DI PELABUHAN KECIL
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Iklan Iklan

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(1946)

Menurut HB Jassin, puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” merupakan ungkapan hati Chairil yang rawan. Di sana berkobar kepedihan mendalam. Tidak terucapkan, kecuali melalui puisi. Chairil memang harus patah hati. Sri sudah bertunangan dengan dokter R.H. Soeparno. Setelah menikah, Soeparno bertugas di sebuah rumah sakit militer di kota Serang. Sri Ayati tidak tahu-menahu kalau ia dibuatkan puisi oleh Chairil.

BACA JUGA:   Imajinasi Itu

Penyair itu tak pernah mengutarakan cintanya kepada Sri Ayati.
Sri Ayati baru tahu kalau dibuatkan puisi, ketika Mimiek (anak angkat Perdana Menteri Sutan Syahrir) bertamu ke Serang dan memberitahukan hal itu kepada Sri Ayati.

Dengan demikian, Sri Ayati tidak pernah bertemu lagi dengan Chairil Anwar, sampai Chairil meninggal dunia pada 28 April 1948.

Penyair ini tidak bisa hidup seribu tahun lagi seperti metafora dalam salah satu puisinya “Binatang Jalang”. Dia mati muda pada umur 27 tahun. Lain halnya dengan Sri Ayati, yang meninggal dunia di Magelang pada tahun 2009 dalam umur 90 tahun. Dunia sastra Indonesia akhirnya mengenal nama Sri Ayati meskipun dia bukan sastrawan. Namanya dikenal karena tercantum dalam salah satu puisi Chairil Anwar.

* SELAMAT HARI RADIO SEDUNIA

Pelajaran moral:
Nama seorang perempuan bisa terkenal karena membuat patah hati seorang penyair dan penyiar.

Alfian Nawawi Hari Radio Sedunia Radio

Penulis: 
    author

    Posting Terkait