Rab. Agu 21st, 2019

Berita Bulukumba

Media Online Kabupaten Bulukumba Sulsel

Perang Total Versus Perang Badar

3 min read

TIM Kampanye Nasional paslon 01 mempersiapkan strategi “perang total”. Demikian pernyataan Jenderal (Purn) Moeldoko, sebagai Wakil Ketua TKN paslon 01 tentang fase kampanye pilpres 2019. Jika benar redaksi asli dari pernyataan itu salah satunya berbunyi “mempersiapkan” maka dipastikan ada kepanikan dan ketidaksiapan di awal start. Padahal Pilpres kurang dari dua bulan lagi.

Mencerna kata “perang total”, diksi itu berarti perang secara total, habis-habisan, hancur-hancuran, kalau perlu dengan model strategi bumi hangus jika terdesak mundur.

Dikutip dari Wikipedia, makna perang total adalah konflik di mana kedua pihak memobilisasi seluruh sumber dayanya, baik manusia, industri, agrikultur, militer, alam, atau teknologi, untuk menghancurkan perlawanan musuh. Namun terlalu naif jika “perang total” Moeldoko langsung dimaknai sebagai mobilisasi segenap sumber daya bahkan melibatkan militer untuk menghancurkan musuh. Sebab jika itu kejadiannya maka kita tidak perlu menunggu tahun 2030. Bulan April 2019 Indonesia akan lenyap di planet bumi ini.

Serupa tapi tak sama, jauh sebelumnya, Amien Rais dan Neno Warisman menggunakan termin “Perang Badar” sebagai kiasan perlawanan kaum oposisi. Layaknya permainan catur, dari titik ini rupanya pihak oposisi sudah lebih dulu mengamankan langkah dua kuda. Posisinya tepat di kotak strategis. Tinggal menunggu saat yang tepat untuk menumbangkan pertahanan terakhir sang raja.

BACA JUGA:   People Power Itu

Dalam sejarah Islam, perang Badar adalah peperangan terberat dan tersulit dari sekian banyak peperangan yg dialami Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya. Episode Perang Badar meninggalkan catatan sejarah, jumlah pasukan muslimin hanya 313 orang. Namun mereka bertempur gagah berani melawan pasukan Quraisy yang berjumlah 1000 orang lebih. Jumlah yang sangat tidak sebanding. Namun faktanya kemenangan gemilang diraih kaum muslimin. 14 sahabat gugur sebagai syuhada, 70 orang dari musyrikin Quraisy terbunuh di medan perang dan 70 orang berhasil ditawan.

Dapat dicerna dengan mudah, diksi Perang Badar” oleh oposisi adalah untuk memaknai pihak jumlah sedikit melawan jumlah yang jauh lebih banyak. Mulai koalisi parpol, dana, dukungan media dan lembaga survei, dan seterusnya. Dalam hal ini jumlah sedikit itu bergerak meraih kuantitas suara pendukung semaksimal mungkin.

Mengapa harus memilih diksi itu? Bukankah diksi itu menyeramkan khususnya bagi pandangan kaum yang tidak mau berpikir? Apalagi diksi “Perang Badar” yang bersumber dari khazanah sejarah islam mudah dikaitkan dengan kata “jihad” oleh kaum islamofobia.

BACA JUGA:   Uninstall Heribertus

Kaum islamofobia begitu bebal terhadap pendapat obyektif terkait jihad. Seperti yang paling mengemuka yaitu Karen Armstrong, pengamat islam dari Barat, yang berpendapat perintah jihad dalam Alquran memiliki makna yang lebih luas dari sekadar perang suci.

“Ada banyak kata Arab yang berarti perang seperti harb (war), sira’ah (combat), ma’arakah (battle), atau qital (killing) yang dengan mudah (bisa) digunakan Alquran jika perang merupakan cara pokok muslim mencapai keberhasilan,” katanya, menyindir kritikus Islam di Barat yang menyebut Islam agama ‘doyan perang’.

Karen Armstrong dalam bukunya “Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis” (1991) secara lugas menulis bahwa perintah jihad dalam Alquran memiliki makna yang lebih luas dari sekadar perang suci. Jihad, menurutnya, memiliki makna yang kaya sebagai perjuangan moral, spiritual, serta politik untuk menciptakan masyarakat adil dan sejahtera ‘tanpa penindasan’ sebagaimana perintah Tuhan.

BACA JUGA:   Jika Pilpres adalah Laga Sepakbola, TKN vs BPN

Diksi “perang total” adalah salah satu blunder di kubu petahana. Rakyat akan menangkapnya sebagai ‘wilayah radikal’, berujung keyakinan bahwa rezim memang benar-benar sedang menggunakan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan.

Dari segi timing, kubu petahana nampaknya terlambat memasuki fase “perang urat syaraf.” Taktik psywar-nya ketinggalan kereta, sedikitnya telat tiga tahun ke belakang. Akibatnya “perang total” Moeldoko tidak akan berpengaruh banyak terhadap gerak timses petahana di lapangan. Sebab “perang total” yang sesungguhnya jauh sebelum start telah lebih dulu dimainkan oleh oposisi. Dalam hal ini, “perang total” bagi pendukung paslon 02 adalah militansi, door to door, kordinasi rapi kalangan ulama dan santri, perang opini di internet terutama medsos, pengerahan massa yang ril -bukan pasukan nasbung- dan sebagainya.

Para pendukung paslon 02 sedang bergerak ‘menguninstal rezim.’ Bisa dikatakan aksi itu adalah pra-kondisi sebelum 17 April. Tagar #UninstallJokowi yang menjadi trending topics dunia hanya salah satu dari sekian banyak gejala.(*)

Pelajaran moral: Tidak pernah ada perang total yang tidak dimenangkan oleh rakyat tertindas.

Tinggalkan Balasan