Capres Cawapres dan Literasi

BUKU dan jagad literasi selalu lekat dengan para pemimpin dan calon pemimpin. Para pemimpin dunia selalu identik dengan buku. Sebagian besar rajin baca buku dan menyempatkan diri menulis buku.

Mao Tse Tung yang atheis-komunis pun memberi contoh bagus. Mantan orang nomor satu di RRC itu punya cara tersendiri menikmati hari tua. Sebelum meninggal, dia memilih tenggelam bertahun-tahun dalam bacaan di tengah 10.000 buku di perpustakaan pribadinya.

Di Indonesia, para pendiri bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, HOS Cokroaminoto, dan lainnya pun hidupnya tidak lepas dari buku. Mereka sebagian besar adalah pembaca sekaligus penulis buku di sela-sela waktunya yang sangat sibuk.

Joko Widodo
Beberapa waktu lalu dalam sebuah wawancara di TV One, Jokowi mengaku suka baca komik Sinchan dan Doraemon. Dari sisi hobi, genre bacaan yang disukai Presiden RI periode 2014-2019 ini tentu tidak ada salahnya.

Para pembaca komik Sinchan tentunya akrab dengan karakter Sinchan yang centil dan genit, bahkan kurang beradab terhadap orangtua. Sedangkan komik Doraemon diakrabi oleh pembacanya bahwa semua persoalan cukup diselesaikan dengan sebuah kantong ajaib

Interpretasi publik boleh beragam berdasarkan kesukaaan pak presiden terhadap komik. Dengan begitu, ada ruang bagi rakyat untuk memberi penilaian terhadap presidennya dari sisi kualitas bacaan ataupun tradisi literasi di seputar presidennya.

KH. Ma’ruf Amin
KH Ma’ruf Amin rajin membaca berbagai macam buku dan juga menulis buku. Beberapa karya KH. Ma’ruf Amin yang terkenal adalah buku berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, Makharij Fiqhiyyah, dan Ekonomi Syariah.

Dalam Biografi KH Ma’ruf Amin diketahui bahwa beliau tidak pernah mengenyam pendidikan master hingga ke jenjang doktor di bidang agama. Namun pengetahuannya yang sangat luas tentang agama membuat ia tidak berbeda jauh dengan orang yang sudah bergelar doktor sehingga sangat wajar bila ia mendapat gelar sebagai Professor Doktor.

BACA JUGA:   Sarungkanlah Pemimpin pada Tempatnya

Prabowo Subianto
Prabowo Subianto selain rajin baca buku juga rajin menulis buku. Sedikitnya gagasan dan pemikirannya telah tertuang ke dalam lima buku, yaitu: Paradoks Indonesia, Merebut Indonesia Raya, Merebut Indonesia Raya (2), Kembalikan Indonesia, dan Surat Buat Sahabat.

Mantan Danjen Kopassus ini dikenal memiliki narasi kuat di samping kemahirannya dalam lima bahasa asing, yaitu Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, dan Arab. Dalam debat capres cawapres 2014, Prabowo mengungkapkan ekonomi kita bocor, hampir semua orang tertawa terutama pendukung Jokowi. Setelah hampir lima tahun berlalu, tawa itu pun hilang terbungkam. Karena fakta-fakta dibalik ekonomi bocor kini terungkap.

Narasi tentang ekonomi bocor yang dilontarkan Probowo muncul jauh sebelum tahun 2014. Prabowo telah lama menawarkan gagasannya ke kampus-kampus. Bahkan jauh sebelum Gerindra lahir. Narasi itu setidaknya telah terangkum dalam buku yang ditulisnya, Paradoks Indonesia.

Semasa orde baru, seorang ekonom senior berani mengkritik Presiden Soeharto bahwa 30% dana pembangunan ekonomi selama orde baru bocor. Kritik itu diucapkan saat kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ke-12 di Surabaya, 1993.

Angka 30% tidak muncul begitu saja, angka itu datang dari seorang ekonom berkelas nasional dan internasional. Kritik terhadap orba ini hanya bisa dilakukan oleh seorang begawan ekonomi bernama Soemitro Djoyohadikusumo, yang tidak lain adalah ayahanda dari Prabowo Subianto, dan besan Soeharto sendiri.

Kritik ini juga mengandung kebenaran karena 4 tahun kemudian, Indonesia dilanda krisis dan rezim orde baru tumbang. Beliaulah begawan ekonomi yang kiprahnya dalam bidang pembangunan Indonesia tidak diragukan lagi Nasionalismenya. Lima kali menjadi menteri dalam pemerintahan Orde lama dan Orde baru. Juga pernah menduduki jabatan prestisius sebagai group of top five experts di PBB.

Iklan Iklan

Julukan begawan ekonomi karena beliau seperti ibu kandung bagi rancang bangun ekonomi Indonesia serta ekonom-ekonom yang menyertainya. Beliau adalah pendiri fakultas ekonomi UI, yang dalam sejarahnya melahirkan ekonom handal negeri ini. Pendiri ISEI dan lembaga thinktank LP3ES.

BACA JUGA:   Soal Celana Menonjol, Ini Kata Sandiaga Uno di Instagram

Soemitro mendapat gelar doktor ekonomi dari Universitas Erasmus Roterdam pada usia 26 tahun. Setelah itu langsung diangkat menjadi staf Perdana Menteri Sjahrir. Soemitro juga menjadi orang berpengaruh dalam menjalankan siasat ekonomi Bung Hatta.

Paska Konferensi Meja Bundar (1949) dimana Belanda telah mengakui kedaulatan Indonesia, Bung Hatta langsung memerintahkan Ir. Djuanda dan DR Soemitro.

Dalam siasat ekonomi Hatta, Indonesia harus mempercepat tranformasi ekonomi dari sistem ekonomi kolonial ke sistem ekonomi nasional. Dana US$ 100 juta ini akan dijadikan modal untuk membangun pondasi industri dasar.
Itu bagian dari karya ayah Prabowo.

Setiba di Tanah Air, Soemitro diangkat menjadi menteri Perindustrian dan perdagangan pada usia 33 tahun. Dan program ekonominya dikenal dengan ekonomi benteng, salah satu programnya adalah membangun pabrik Pupuk Sriwijaya dan Semen Gresik.

Pada akhirnya dua pabrik ini berdiri kokoh dan menjadi pondasi industrialisasi dan pembangunan sektor pertanian. Hingga pada masa orde baru Indonesia mencapai prestasi swasembada pangan. Ini pembangunan terencana. Soemitro otaknya.

Setelah mengarsiteki ekonomi orde baru dan orde lama, Soomitro pun tak berhenti berkarya. Beliau telah menulis banyak sekali buku dan makalah nasional dan internasional. Sehingga Almamater Universitas Erasmus menganugerahi gelar honoris causa pada tahun 1995. Prof Emil Salim dalam tulisannya di Kompas (23 November 1995), menyebutkan, nama Soemitro telah dicantumkan berdampingan dengan tokoh-tokoh Universitas Erasmus dan pemenang nobel seperti Jan Timbergen.

BACA JUGA:   Songkok Caleg

Sandiaga Uno
Sandiaga Shalahuddin Uno terbiasa membaca buku sejak kecil. Hingga kini pun kebiasaannya baca buku sulit dihilangkan. Bahkan sempat beredar di internet foto Sandi dalam pesawat sedang asyik membaca buku berjudul “The Sustainable State.”

Sejauh ini belum ada satupun informasi mengenai buku karya Sandi. Namun kemampuan literal seorang Sandi dapat dilihat pada kepiawaiannya menulis artikel yang mudah dijumpai di internet. Salah satunya di fanspage Facebok dan akun instagramnya.

Hobinya baca buku jelas dipengaruhi oleh keluarganya yang akrab dengan buku. Ibunya, Mien R. Uno adalah seorang penulis belasan buku bertema kepribadian dan motivasi. Mien R. adalah pimpinan dari Sekolah Pengembangan Pribadi John Robert Power dan pendiri Mien Uno Foundation.

Salah satu karya Mien R. Uno berjudul The Secret ternyata merupakan senjata Sandi mencuri hati masyarakat Indonesia saat debat pertama Pilpres 2019. Buku Mien R. Uno berjudul Kebayaku dipilih oleh National Library of Congress di Washington DC, AS, untuk mengisi berbagai perpustakaan nasional di Amerika Serikat.

**
Literasi sesungguhnya tidak hanya sekedar terdiri dari membaca. Bahkan tidak hanya sekedar menulis. Literasi adalah juga kumparan kemampuan nalar, analisa, sintesa, dan evaluasi informasi yang ditumbuhkan secara integral terhadap teks, audio, video, alam, dan sosial. Kumparan itulah yang selalu dibutuhkan seorang pemimpin atau calon pemimpin guna memproduksi kebijakan-kebijakan pro-rakyat. Sehingga dia layak ditunggu, dicari, dan dipilih.(*)

Pelajaran moral: Sejarah selalu mencatat, negara adil makmur biasanya diawali dari literasi yang bagus, bukan ‘kantong ajaib.’

Alfian Nawawi Joko Widodo Prabowo Subianto Sandiaga Uno

Penulis: 
    author

    Posting Terkait