Buku-buku “Terkutuk”

BUKU berjudul “The Prince” atau “Sang Pangeran” namun tak sepotong pun paragrafnya memuat kisah romantis. Tidak ada cerita indah tentang seorang pangeran yang jatuh cinta kepada seorang gadis cantik dari kalangan rakyat biasa. Buku ini justru berisi ajaran kepada para pemimpin untuk menggunakan jalan kekerasan atau perang untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaannya.

Buku “The Prince” ditulis oleh Niccolò di Bernardo dei Machiavelli (3 May 1469 – 21 June 1527) atau lebih dikenal dengan nama Machiavelli. Tebalnya tidak lebih dari 100 halaman. Diterbitkan tahun 1532. Padahal ditulis pada tahun 1513. Butuh 19 tahun untuk membuat penerbitnya yakin bahwa tulisan ini layak terbit. Tahun 1527 Machiavelli meninggal dunia. Mungkin di alam barzakh pun ia tidak pernah diberitahu bahwa bukunya akhirnya diterbitkan.

Setelah dua setengah abad berlalu, buku ini dibaca oleh seorang penakluk bangsa-bangsa dari Prancis. Dunia mengenalnya sebagai Napoleon Bonaparte. Buku ini mengilhami Napoleon melancarkan agresi ke berbagai negeri. Meskipun sejarah mencatat Napoleon tidak sebrutal gagasan-gagasan dalam buku The Prince, namun dia telah membuat Perancis menjadi salah satu negara paling ditakuti.

The Prince seolah telah menjadi “buku terkutuk”. Empat abad kemudian, buku ini dibaca dan menjadi pegangan Hitler, Musolini, Mao Tse-Tung dan Stalin. Sejarah dunia kemudian mencatat akibat-akibatnya dan dipelajari oleh berbagai generasi berikutnya.

Selain The Prince, keempat diktator itu juga terilhami oleh buku Karl Marx dan Charles Darwin. Sedangkan Marx maupun Darwin juga ternyata pembaca The Prince. Stalin membunuh jutaan rakyatnya. Hitler mempelopori Perang Dunia II yang membuat puluhan juta orang tewas. Musolini berkoalisi dengan Hitler. Mao Tze Tung pun dikenal sebagai diktator penyebab terbunuhnya jutaan orang di negerinya.

Diplomat dan politikus Italia yang juga seorang filsuf ini juga menulis buku “Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio” sebagai harapan untuk memperbaiki kondisi pemerintahan di Italia Utara. Pemikir renaisans abad pertengahan Eropa ini pun menulis buku-buku sejarah, yaitu: History of Florence, Discourse on the First Decade of Titus Livius, a Life of Castruccio Castrancani, dan History of the Affair of Lucca. Di wilayah sastra pun dia pernah menulis suatu tiruan dari The Golden Ass of Apuleius, The

Iklan
play Mandragola, serta Seven Books on the Art of War.

Sampai hari ini dunia tetap saja mengenal Machiavelli sebagai seorang pemikir yang mengajarkan immoralism dan amoralism. Inti ajarannya menghindar dari nilai keadilan, kasih sayang, kearifan, serta cinta, dan lebih cenderung mengajarkan kekejaman, kekerasan, ketakutan, dan penindasan. Ada pula yang mencoba memahami pemikiran Machiavelli sebagai seorang realis atau pragmatis yang melihat tidak digunakannya etika dalam politik. Bahkan ada pula yang memahami pemikiran Machiavelli sebagai sesuatu yang ilmiah dan cara berpikir seorang scientist.

Inti pemikiran Machiavelli dalam buku Discourses on Livy dan The Prince adalah memisahkan teori politik dari etika. Sangat bertolakbelakang dengan tradisi Barat yang mempelajari teori politik dan kebijakan sangat erat kaitannya dengan etika seperti pemikiran Aristoteles yang mendefinisikan politik sebagai perluasan dari etika.

Sebuah ide dalam sebuah buku seperti The Prince bisa mempunyai pengaruh besar sampai berabad-abad lamanya. Hanya saja ide Machiaveli buruk sekali, sehingga berhasil menghasilkan pemimpin-pemimpin yang merusak dunia seperti Hitler, Mussolini dan Stalin.

Adakah buku selain The Prince yang punya pengaruh sedemikian berbahayanya? Kemungkinan besar ya. Bahkan cukup banyak. Contohnya, pada era 1980-1990an segelintir generasi muda Indonesia akrab dengan novel serial Nick Carter. Novel serial itu berisi rentetan petualangan seorang agen CIA bernama Nick Carter yang dibumbui petualangan seks, lengkap dengan adegan vulgar. Dikomparasikan dengan aksi tembak menembak, berkelahi, dan spionase.

Bagaimana halnya dengan bacaan-bacaan ringan? Apakah tidak ada bacaan ringan seperti komik yang cukup “berbahaya?” Semisal komik Sinchan, di sana ada karakter Sinchan yang centil dan genit, bahkan kurang beradab terhadap orangtua. Sedangkan komik Doraemon memberitahu pembacanya bahwa semua persoalan cukup diselesaikan dengan sebuah kantong ajaib. Nobita pun selalu “berulang-ulang” menyadari bahwa semua persoalan tidak harus selalu ditangani oleh Doraemon. Di seri berikutnya begitu lagi. Sadar lagi, dan seterusnya, ratusan episode.(*)

Pelajaran moral:
* Jika Machiavelli hidup kembali dan membaca komik Doraemon maka mungkin dia setuju dengan penggunaan kantong ajaib untuk mengatur negara.
* Tidak dibutuhkan buku The Prince untuk mengamalkan ajaran Machiavelli, sebab pembaca komik Sinchan pun bisa melakukannya.

Iklan

Alfian Nawawi

Penulis: 
    author

    Posting Terkait