Jauh Sebelum Sejarah Hari Ini Dibaca di Masa Depan

JIKA sebuah episode sejarah memiliki perulangan maka itu adalah perulangan secara esensial. Bukan pada kemiripan peristiwa-peristiwa. Ruang yang sama dengan waktu yang berbeda memang kerap menampakkan dejavu. Adalah sebuah tragedi peradaban jika umat manusia tidak mampu belajar pada sejarah.

Pasca Asian Games 1962 Indonesia menghadap masa-masa sulit dalam kehidupan politik dan ekonomi. Dua kali gunung Agung meletus dengan korban luar biasa besar. Setahun berikutnya krisis ekonomi disusul kemarau panjang. Terjadi bencana kelaparan di banyak tempat di tanah air. Beberapa tokoh politik yang dianggap oposan seperti Sutan Sjahrir, Muhammad Natsir, KH Buya Hamka, dan sederet lainnya dijebloskan ke dalam penjara tanpa pengadilan.

Serupa tapi tidak sama. Sebelum dan sesudah Asian Games 2018 berbagai bencana alam menyapa tanah air. Gunung-gunung api meletus, gempa, tanah longsor, dan banjir terjadi di berbagai penjuru. Para ulama dan oposan dikriminalisasi, bahkan sampai dipenjara.

Pada masa Orde Lama ada Poros Jakarta-Peking yang ditegakkan oleh PKI melalui DN Aidit. Saat ini ada Poros Jakarta-Beijing yang ditegakkan oleh salah satu partai pendukung petahana melalui big bosnya.

Terkait Poros Jakarta-Beijing, beberapa tahun lalu, seorang peneliti Jepang, Masako Kuranishi dari Universitas Tsurumi dan Universitas Seigakuin, mengingatkan Indonesia agar sangat hati-hati terhadap gerakan China di Asia terutama di Indonesia.

“China punya rencana atau konsep besar sejak Oktober 2013 terhadap Asia, yaitu Maritime Silk Road atau sering dijuluki One Belt One Road (OBOR) yang dilemparkan idenya oleh Xi Jinping. Secara kasar bisa dikatakan munculnya hegemoni China terhadap negara-negara di Asia,” urai Masako.

Di Indonesia, menurutnya dimulai dari penguasaan Shinkansen, “Bukan hanya soal Shinkansen, tetapi daerah yang dilewati dan sekitarnya akan dan harus dikuasai pihak China walaupun perusahaan patungan 60% Indonesia dan 40% China. Tapi China yakin Indonesia akan kesusahan bayar sehingga penguasaan mayoritas perusahaan nanti akan dilakukan China. Demikian pula tenaga kerja yang dikerahkan semua akan diturunkan dari China. Tenaga kerja Indonesia hanya sedikit dan yang tak penting yang terlibat dalam proyek kereta api cepat itu itu,” katanya.

Masako tentu saja tidak asal bunyi. Pernyataannya berasal dari wilayah intelektual, penelitian komprehensif atas fakta, data, dan sejarah. Dan sebaliknya pada sebagian intelektual kita, pada sejarah bangsa lain pun mereka enggan berkaca. Padahal terpampang jelas sejarah Angola, Zimbabwe, Tibet, Turkistan, Srilanka, dan lainnya bagaimana awalnya negara-negara itu “dikangkangi” RRC.

Ketika ‘nyala’ OBOR kian ‘berkobar’, Poros Jakarta-Beijing kian menguat, maka terjadilah resistensi dari kalangan oposisi dan ulama. Kasus Ahok

Iklan
dan Aksi Super Damai 212 hanyalah sebuah awal. Eskalasinya kian menampakkan bentuk di kemudian hari. Habieb Riziek Syihab yang dikriminalisasi dengan fitnah chat mesum fake WA dan berbagai fitnah lainnya tiba-tiba menjadi pemantik perlawanan umat islam.

Banyak yang gerah melihat para ulama yang katanya “ikut bermain politik”. Padahal dulu, jangankan berpolitik, para ulama justru turun langsung memimpin perjuangan bersenjata melawan kolonial. Imam Bonjol, Tjut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Syekh Yusuf, dan masih banyak lagi. Dalam berbagai pertempuran yang menentukan di masa heroisme pemuda melawan Tentara Sekutu yang dibonceng Belanda, rakyat pun mengikuti komando ulama. Sejarah mencatat misalnya bagaimana seruan jihad para ulama mampu menggelorakan semangat rakyat untuk bertempur melawan Sekutu dalam Pertempuran Surabaya.

Berbagai episode sejarah bangsa ini dalam pergolakan merebut dan mempertahankan kemerdekaan selalu menampilkan para ulama. Barang siapa yang tidak mengenal KH. Agus Salim sebagai politisi yang mendampingi Soekarno-Hatta dalam perjuangan diplomasi untuk kemerdekaan bangsa ini, maka berarti dia tidak pernah mengenyam bangku SD.

Kapasitas keulamaan para ulama telah mewarnai bahkan “bermain” secara langsung dalam perumusan konsep dasar negara Pancasila. Munajat 212, Aksi 212, Reuni 212, dan lainnya itu adalah juga konsekuensi “keulamaan”. Bangsa kita hari ini memang sedang membutuhkan komando ulama.

Jika para ulama secara mufakat sudah terang-terangan “bermain politik”, mempengaruhi pilihan umat, mendukung paslon tertentu, maka sebenarnya sedang terjadi sesuatu atau banyak hal yang tidak beres sehingga menyebabkan para ulama tersebut memasuki gelanggang politik. Paling tidak, sebagai bentuk demokrasi partisipatoris.

Jangankan politik, cara buang air kecil pun diatur dalam islam. Jelas ada sesuatu yang tidak beres sehingga para ulama turun gunung. Bukan sebagai pelaku secara langsung semisal jadi wapres ataupun meminta jatah kekuasaan, melainkan sebagai ulama yang menjalankan fungsinya sebagai ulama yang sebenarnya: membimbing umat menentukan pilihan terbaik.

Para ulama adalah manusia-manusia pilihan. Beberapa di antara mereka memiliki kemampuan melihat dengan mata batin, baik kejernihan sejarah masa silam maupun kemungkinan sejarah yang akan terjadi. Mengikuti komando ulama mungkin bukan sebuah kewajiban, namun yang pasti merupakan pilihan akal sehat. Mengikuti komando ulama menandakan bangsa ini mampu berkaca pada sejarah.

Jauh sebelum sejarah bangsa hari ini dibaca oleh generasi mendatang, maka sekarang hanya ada dua pilihan. Dicatat sejarah sebagai bangsa yang berakal sehat ataupun sebaliknya.

Pelajaran moral: Salah satu bab sejarah yang menggelikan bagi generasi mendatang adalah tentang salah eja kata ‘unicorn’ dan ucapan ‘upload aplikasi’.

Iklan

Alfian Nawawi

Penulis: 
    author

    Posting Terkait