Benarkah Puisi Neno “Mengintimidasi Allah?”

TIDAK mudah menghakimi sebuah karya sastra. Baik puisi maupun prosa. Sebuah puisi memerlukan “pengadilan puisi”. Setidaknya membutuhkan analisa dan kritik sastra. Sekelebat apapun analisa itu.

Berikut kutipan puisi Neno Warisman yang “kontroversial” itu yang dia bacakan dalam Munajat 212:

“Namun kami mohon jangan serahkan kami pada mereka
Yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami
Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami
Karena jika Engkau tidak menangkan
Kami khawatir ya Allah
Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu”

Unsur intrinsik berupa enjabemen dari kutipan puisi di atas terdapat pada kalimat “Kami khawatir ya Allah”. Lariknya memiliki repetisi sebanyak dua kali.

Diksi “khawatir” jelas tidak tergolong kata absurd. Lantaran sisi intrinsik puisi ini adalah kata konkret, yaitu penggunaan kata-kata bermakna denotasi oleh penyairnya. Sehingga maknanya sangat cair bahwa penulisnya sedang mengungkapkan kekhawatiran pada berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan yang bisa terjadi di masa mendatang.

Kata “khawatir” yang denotatif sama sekali tidak merujuk pada selubung makna “intimidasi terhadap Allah” atau tidak bisa digolongkan sebagai “puisi ancaman terhadap Allah”.

Unsur intrinsik berupa Kata Konkret dalam puisi ini dikuatkan unsur enjambemen yang bertujuan untuk memberikan tekanan pada bagian tertentu ataupun sebagai penghubung antara bagian yang mendahuluinya dengan bagian-bagian yang berikutnya.

Mengamati salah satu sisi ekstrinsik-nya, penulisnya jelas terinspirasi dari sejarah Perang Badar. Lebih tepatnya terinspirasi dari do’a Nabi Muhammad SAW ketika terjadi Perang Badar:
“Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini. [HR. Muslim 3/1384 hadits no 1763].

Dalam konteks do’a Nabi Muhammad SAW tentu saja Beliau tidak “mengintimidasi Allah”. Sebab hakikatnya di sana terdapat kekhawatiran Beliau terhadap masa depan umatnya. Terdapat ekspresi kecintaannya kepada Allah SWT yang kalau saja Allah memutuskan pasukan muslim binasa dalam Perang Badar yang menentukan sejarah itu, maka islam segera punah. Meskipun Beliau tentunya tahu, bahwa Allah tidak berkurang Kemuliaan-Nya baik disembah maupun tidak disembah. Agama Allah pun tidak dapat dipadamkan oleh siapapun kecuali atas Izin-Nya.

Unsur ekstrinsik puisi adalah unsur yang tepatnya berada diluar teks atau naskah puisi. Umumnya unsur ekstrinsik ini berawal dari dalam diri penulis atau lingkungan-lingkungan tempat

Iklan Iklan
sang penulis ketika menulis puisinya.

Sangat mudah ditebak, struktur puisi ini memuat “amanat” berupa pesan pandangan personal seorang Neno Warisman. Dia mengisyaratkan Pemilu 2019 sebagai Jihad Politik yang memerlukan kesungguhan umat dan pertolongan Allah agar politik di negeri ini sesuai ajaran agama dan konstitusi.

Karena Neno membacakan puisi ini dalam Munajat 212, maka puisi ini sangat relevan dari segi tema. Apakah relevan dengan do’a Rasulullah SAW dalam Perang Badar? Sangat tidak relevan secara tekstual. Redaksinya berbeda.

Ketidakrelevanan lainnya juga terletak pada “kesialan” Neno yang “kurang jeli” memilih diksi sementara sebagian kalangan masyarakat masih belum siap menerima diksi yang mereka anggap tergolong “ekstrim”.

Relevankah do’a Rasulullah SAW digunakan oleh umat islam? Tentunya sangat relevan sebab semua do’a dari Rasulullah SAW adalah merupakan tuntunan secara tidak langsung kepada umatnya dalam tata cara berdo’a. Dalam hal ini pun sebenarnya Neno tidak salah seandainya dia mengutip do’a Rasulullah SAW secara utuh. Terlepas apakah do’a itu boleh digunakan, itu masuk wilayah ijtihad. Dengan kata lain, domain para alim ulama yang berhak menjelaskannya.

Neno yang kebetulan berada di barisan pendukung paslon 02 merupakan person. Sama halnya dengan person-person di barisan pendukung paslon 01.

Namun terlalu naif jika harus meletakkan analisa kritis terhadap puisi Neno di altar yang sama dengan analisa kritis terhadap puisi penghinaan adzan dan cadar yang dilakukan oleh Sukmawati Soekarnoputri.

Hal yang terlalu naif pula jika harus membandingkan puisi Neno dengan statement person lainnya seperti Ngabalin yang berkata, “Jokowi adalah Wakil Tuhan di bumi.” Deretannya masih bisa ditambah. Ada Farhat Abbas yang bertindak selaku “pemegang kunci surga.” Ada pula person lainnya yang mengibaratkan Capres 01 sebagai Umar Bin Khattab, dan seterusnya. Statemen-statemen berbeda dengan puisi lantaran statemen adalah verba yang biasa, percakapan yang lazim. Sedangkan puisi merupakan bahasa ungkapan yang unik. Prosedural menghakiminya juga berbeda. Sekelebat apapun pengadilannya, sebagaimana catatan ini.(*)

Pelajaran moral:
* Kadang ada penguasa yang lebih takut kepada puisi dibandingkan satu batalion tentara.
* Intimidasi terhadap Allah sesungguhnya dimulai dari tindakan mengintimidasi para ulamanya.
* Rakyat yang aneh adalah yang lebih banyak mempersoalkan puisi ketimbang data-data palsu.

Alfian Nawawi Neno Warisman

Penulis: 
    author

    Posting Terkait