Sarungkanlah Pemimpin pada Tempatnya

oleh -

Jika ada Hari Memakai Sarung sekali dalam sebulan maka itu teramat lucu. Sebab sejatinya tidak ada satupun pakaian yang paling akrab dengan Indonesia selain sarung. Bahkan terhadap bayi yang baru lahir pun, sebagian masyarakat Nusantara memiliki kebiasaan membedong bayi dengan sarung.

Salah satu bentuk hadiah atau pemberian istimewa dalam masyarakat kita adalah sarung. Sarung pun identik dengan kegiatan resepsi pernikahan secara adat. Bahkan setiap malam terutama di pedesaan sarung beralih fungsi menjadi selimut di pembaringan. Bagi kebanyakan pasangan suami istri, sarung adalah keniscayaan dalam “ritual malam.”

Alfred Russel Wallace adalah seorang naturalis yang pernah mengunjungi Makassar sekitar tahun 1860-an. Dalam sebuah catatan dia memberikan deskripsi tentang cara berpakaian orang-orang Makassar: “Penduduk lokal biasanya mengenakan celana panjang berbahan katun yang panjangnya sekitar 12 inci dan hanya menutup pinggang sampai lutut. Mereka juga memakai sarung khas Melayu berwarna cerah dan dilingkarkan di pinggang atau melintang di pundak dengan berbagai cara.”

Loading...

Menjadi pertanyaan, sejak kapan tradisi bersarung dari suku Makassar dan Bugis bermula? Berbagai catatan sejarah menyebutkan, orang Melayu Minangkabau yang memperkenalkan kain sarung pada Suku Makassar-Bugis pada abad ke-16.

Pada abad ke-16, Raja Gowa, Karaeng Bontolangkasa Tunijallo ri Pasukki (1565-1590) menerima sekelompok pendatang dari wilayah Barat Nusantara, yaitu orang-orang Melayu. Kedatangan mereka untuk berniaga dan berdakwah. Mereka diterima dengan baik di Makassar, dan diberikan hak untuk mengatur adat istiadat mereka sendiri.

Sekali waktu pernah nyaris terjadi clash budaya antara kaum pendatang Melayu dan kaum asli Makassar-Bugis dalam soal adat istiadat dan pernikahan campuran. Hampir saja terjadi perang etnis. Untungnya, pimpinan kaum Melayu, Datuk Maharaja Bonang, melakukan permintaan maaf di hadapan sang Raja. Mereka lalu memperbaharui traktat perjanjian untuk saling memahami kekhasan budaya dan kondisi kedua suku bangsa. Kaum Melayu diberikan keleluasaan mengatur perdagangan di pasar-pasar dan pelabuhan sesuai dengan keahlian yang mereka miliki. Sementara kepada kaum Makassar-Bugis, Maharaja Bonang lalu menghadiahkan kain-kain sarung sebagai tanda bahwa kedua suku bangsa sejak itu bersaudara dan sehidup semati dalam menghadapi musuh dari luar. “Maka kiranya paduka mengetahui, itulah ciri bahwa kaum Melayu di mana saja baik lelaki maupun perempuannya mengenakan kain sarung sebagai tanda mereka menjunjung tinggi adat dan budaya kaumnya sejak dahulu kala. Kiranya Paduka dan seluruh warga kerajaan Paduka juga mau mengenakan kain sejenis ini pula,” kata Maharaja Bonang menjelaskan semua pasal-pasal yang diinginkannya mengikat kesetaraan antara kaum Melayu dan Makassar-Bugis hingga saat ini.

Demikianlah, mulai abad ke-16 Suku Makassar dan Bugis mulai mengenakan kain sarung. Bahkan diwajibkan oleh penguasa kepada semua warga Kerajaan Gowa dan Tallo untuk bisa menenun kain sarung dengan bahan dari sutera, sehingga dapat diperjual-belikan.

Tidak hanya di Indonesia, budaya menggunakan sarung juga ada di negara tetangganya, yaitu Malaysia, tetapi biasanya mereka mengkombinasikannya dengan celana.

Sebenarnya penggunaan sarung bukan hanya ada di negara-negara melayu, tapi juga di beberapa negara non-melayu, salah satunya di Mesir. Penggunaan sarung di negara piramid tersebut, sangat jauh berbeda fungsinya dengan di negara kita. Kalau sedang berada di Mesir, lantas ke masjid untuk beribadah, sebaiknya hindari menggunakan sarung, kalau tidak ingin dijadikan bahan tertawaan. Bagi yang pernah ke Mesir, tentu lebih tahu.

Ide pencanangan memakai sarung sekali dalam sebulan yang digagas Jokowi sebenarnya sangat aneh bin lucu. Jangankan sekali sebulan, setiap sekali sepekan saban Jumatan, sarung memenuhi masjid-masjid. Jangankan sekali sepekan, sebagian besar umat muslim memakai sarung lima kali sehari setiap sholat.

Apakah Jokowi bermaksud mencuri perhatian dari “kaum sarungan?” Lantas apakah kaum sarungan mau tertarik? Nyatanya kaum sarungan di negeri ini bukan hanya tradisi milik warga Nahdliyin, misalnya. Identitas kaum sarungan adalah juga milik berbagai lapisan masyarakat kita. Sarung berbeda dengan batik. Sarung tidak memerlukan sebuah hari khusus pemakaian.(*)

Pelajaran moral: Jika ada pemimpin yang suka menyarungkan janji maka sarungkanlah pemimpin itu pada tempatnya.