Menang Survei Tapi Panik?

oleh

Kontestasi Pilpres 2019 mendadak aneh bagi nalar. Itu menjadikannya sebagai kontestasi yang paling aneh dalam sejarah kepemiluan di republik ini. Caleg-caleg dari partai tertentu minder memasang gambar capres-cawapres jagoannya di spanduk.

Dalam politik elektoral sungguh teramat lucu jika pihak yang diunggulkan dalam berbagai survei justru mempertontonkan tindakan-tindakan yang tidak linear dengan grafik elektabilitas. Logikanya, jika benar pihak yang menang survei itu memang unggul secara elektabilitas maka seharusnya tinggal menikmati posisi adem-ayem.

Jauh hari sebelumnya, pihak yang “menang survei” sibuk kesana kemari mengkriminalisasi dan mempersekusi. Elektabilitas diklaim tetap unggul. Namun kian berbanding terbalik saat ada tontonan aneh, “wasit” dan “pengawas” seolah ikut main. Ada aroma timses justru tercium pada baju institusi-institusi tertentu yang seharusnya netral.

Survei-survei kembali dirilis. Lagi-lagi survei. Lagi-lagi unggul. Lagi-lagi tidak linear ketika terjadi pelarangan terhadap konser musik solidaritas untuk seorang musisi yang kebetulan berseberangan dengan pihak pemenang survei.

Lagi survei dirilis. Tentunya tetap unggul. Lagi-lagi unggul. Ikon angka pihak seberang malah ditakuti. Aba-aba lomba pun tidak menyebut “angka 2.” Faktanya di lapangan “angka 2” memang begitu ditakuti karena justru diacungkan simbolnya oleh tangan-tangan rakyat pada acara-acara pihak pemenang survei.

Survei lagi. Unggul lagi. Tokoh-tokoh ulama

Iklan
yang pro-pihak seberang didekati. Diminta netral. Sebuah grup musik gambus pun disarankan tidak ikut berpolitik.

Survei lagi, unggul lagi. Justru lagi-lagi kepanikan ketika harus menghadapi fakta di lapangan, sebuah tabligh akbar hanya dihadiri 54 manusia, 60% terdiri dari panitia. Padahal dijanjikan paling kurang 4000 jamaah.

Angka elektabilitas yang “nonsens” di pihak pemenang survei dibandingkan dengan fakta massa “pihak seberang” adalah realita yang membuat politik elektoral kita hari ini menjadi mimpi buruk bagi demokrasi negeri ini. Menjadi aneh dalam nalar. Meskipun sebenarnya tidak rumit bagi akal sehat.

Menilik apa yang sedang terjadi hari ini, rasanya persis seperti apa yang disabdakan Rasulullah Saw 14 abad yang lalu. Beliau bersabda, “Akan datang pada manusia tahun-tahun yang penuh tipudaya. Pada tahun-tahun itu pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan, pengkhianat dipercaya, orang terpercaya dianggap pengkhianat. Pada masa itu yang banyak berbicara adalah ruwaybidhah.” Lalu ada yang bertanya, “Apa itu ruwaybidhah?” Rasul menjawab, “Yaitu orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak“. Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rahiimahullaahu Ta’ala.

Pelajaran moral: Rakyat yang mencintai kebersihan tidak akan ngupil dengan jempol, melainkan dengan pistol.

Iklan