Sejarah Tidak Pernah Amnesia

Sejarah tidak pernah mengidap amnesia, berbeda dengan sebagian pembacanya.Tidak ada bagian gelap dari sejarah selain kisah-kisah keberhasilan propaganda. Dan yang paling hitam dari propaganda adalah politik stigmatisasi. Kita mengenali istilah itu sekaligus tanpa sadar mengunyahnya sebagai sebuah nutrisi otak sejak kecil.

Film-film action di masa remaja bahkan kanak-kanak berhasil menanamkan semacam mikrochip di kepala kita. Sampai kita dewasa mikrochip itu selalu berdengung di telinga kita, menyampaikan bahwa senjata dan teror berasal dari gua-gua gelap di gurun pasir. Kekacauan dunia dikendalikan oleh seseorang yang berjenggot dan bersorban. Di pinggangnya terselip sepucuk pistol otomatis dan sebuah kitab kecil Al Quran.

Pesan-pesan terpenting dari propaganda itu tidak bisa ditolak oleh logika kita di waktu kecil. Selalu berulang-ulang dalam film-film yang berbeda. Pokoknya jagoan kita hero yang paling benar, berkulit putih, bermata biru, dan berambut pirang. Sebaliknya yang menjadi tokoh antagonis adalah sekelompok penjahat berbahasa Arab namun biadab, suka membajak pesawat, bom bunuh diri, dan menembak warga sipil.

BACA JUGA:   40 Tewas dan 4 Ditangkap setelah Penembakan di Masjid New Zealand

Film hanya merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk propaganda. Ketika kita beranjak dewasa, propaganda itu tetaplah pemenang. Dia bukan lagi film, game, dan media massa. Dia bahkan mengatur hidup kita sebagai warganegara. Salah satunya adalah sistem demokrasi liberal. Pesan terpentingnya adalah bahwa semua yang digagas dari Barat adalah jaminan keberlangsungan peradaban.

Lalu bagaimana cara membalikkan keadaan? Sebenarnya kita tidak perlu menunggu dewasa untuk segera tahu bahwa film-film jagoan kita itu sesungguhnya hanya propaganda. Ternyata kita hanya memerlukan untuk meniru salah satu trik jagoan kita.

Ketika seorang pembajak pesawat menodongkan pistol ke tengkuk jagoan kita, maka dengan posisi membelakang, dengan kekuatan penuh sang jagoan menangkap tangan lawannya. Pistol meletus, pelurunya menembus jendela pesawat. Terjadi kekacauan lalu sesaat kemudian semuanya bisa dikendalikan. Dengan kekuatan penuh, demokrasi adalah alat yang lumayan untuk membuat sebuah perubahan. Membelakang saja dulu. Dan itu harus dipelajari dari sejarah.

BACA JUGA:   40 Tewas dan 4 Ditangkap setelah Penembakan di Masjid New Zealand

Stigma paling kejam yang nyata di dunia sampai hari ini adalah mengidentikkan teroris dengan islam. Kekejaman stigma ini sudah berlangsung sangat lama. Penerapannya saja yang berbeda di berbagai negara. Misalnya teroris luar negeri ditangkap dulu, baru diketahui namanya. Setelah itu, baru diketahui jaringannya. Teroris di Indonesia, belum ditangkap tapi sudah diketahui namanya. Bahkan sudah jelas silsilah keluarganya. Ini salah satu kehebatan aparat kita.

Iklan Iklan

Teroris luar negeri lebih enak, mereka di usahakan untuk ditangkap hidup-hidup setelah melancarkan aksinya. Menjadi teroris dalam negeri, belum melakukan aksi saja, mereka sudah terbunuh dalam penggerebekan. Dan hebatnya lagi, walau telah mati tapi informasi tetap diperoleh aparat kita.

Sayangnya sejarah tidak pernah amnesia. Peristiwa-peristiwa seperti 9/11 di Amerika Serikat atau peristiwa teroris lokal yang dikepung di Hotel Sarinah ditayangkan secara langsung 24 jam di televisi. Bahkan bertebaran di medsos. Tujuannya tentu saja agar label terorisme melengket di pikiran masyarakat, bahwa terorisme itu identik dengan islam.

BACA JUGA:   40 Tewas dan 4 Ditangkap setelah Penembakan di Masjid New Zealand

Bentuk lain propaganda ini didukung pula operasi-operasi rapi lainnya. Kadang menggunakan jasa rezim di berbagai negara dengan bentuk operasi kamuflase. Yang paling nyata baru-baru ini terkait peristiwa penembakan terhadap jamaah sholat jum’at di masjid di New Zealand.

Agar label terorisme tidak lepas dari islam maka kita di Indonesia dihimbau untuk tidak men-share videonya di medsos. Himbauan tersebut sangat masif dan aktif disebarkan pemerintah. Padahal secara logika, kalau tidak disebarkan maka tidak ada jejak digital dan bukti sejarah kepada generasi yang akan datang dan tidak pernah tahu bahwa pernah ada peristiwa umat islam dibantai di masjid. Sejarah tidak pernah mengidap amnesia dan jejak digital sangatlah cukup membuat politik stigma gagal total.(*)

Pelajaran moral:
* Senjata makan tuan adalah teknologi informasi.
* Iron Man adalah hero maka cerita baju besinya berawal dari ditawannya dia oleh segerombolan teroris di gurun pasir.

New Zealand Penembakan Brutal

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    • Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah “bangkai?” Mr. Takada

    • PEOPLE power juga sering disebut “color revolutions” merujuk pada

    • SEMINGGU sebelum pencoblosan pada pemilu 2018 di Malaysia, elektabilitas