Kartu Sakti Versus Kartu Ajaib

oleh -

JIKA harus memilih antara kesaktian dan keajaiban maka akal sehat pasti memilih keajaiban. Lantaran kesaktian hanya berhubungan dengan kamuflase. Kesaktian pun lebih sering menipu mata manusia. Dia tidak alami. Sebaliknya dengan keajaiban. Dia natural, bukan kamuflase. Sebagai contoh, adanya manusia adalah keajaiban yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta. Manusia pun memiliki banyak keajaiban, di antaranya pikiran dan akal sehat.

Ketika ada “kartu sakti” maka lawannya adalah “kartu ajaib”. Kartu ajaib ini bernama E-KTP, memiliki chip, berlaku seumur hidup. Dia disebut kartu ajaib sebab pikiran dan akal sehat salah seorang cawapres menjadikan kartu ajaib sebagai alat membangunkan tidur banyak orang bahwa jika database warganegara dikelola secara benar maka segala sesuatu bisa terintegrasi.

Dengan kartu ajaib ini, kita cukup menyebutkan NIK maka seluruh data tentang kita akan muncul mulai dari nama, tempat dan tanggal lahir, alamat, nama suami/istri, nama anak, nama ayah dan ibu, pendidikan, pekerjaan, rekam penyakit, rekam kejahatan, dan seterusnya.

Loading...

Dengan begitu rakyat tidak lagi memerlukan Kartu Pra-Kerja, Kartu Pra-Nikah, Kartu Pra-Gila, dan lain-lainnya. Pengelolaan database secara benar tinggal kemauan dari pemerintah saja.

Sejauh ini, secara obyektif dan nalar sehat, yang bisa melakukan itu hanya cawapres yang dalam closing statement mengeluarkan kartu ajaib dari dompetnya lalu diikuti para pendukungnya juga mengeluarkan kartu ajaib masing-masing. Pada detik-detik itulah terjadi knock out terhadap wajah rezim. Ternyata kartu ajaib punya fungsi lain yaitu “menampar” wacana atau kebijakan yang “sakti mandraguna”.

Pasca debat cawapres, media dan sosmed langsung diramaikan kata-kata “Infrastruktur langit, sedekah putih, BPJS, Ujian Nasional, Tenaga Kerja Asing, dudi, OK OCE, stunting, libur ramadhan, link and match, santun, Kartu Pra-Kerja, dan E-KTP. Akhirnya rakyat berakal sehat bisa menilai sendiri yang mana pemaparan program yang “mengambang” dan mana yang menukik langsung ke persoalan-persoalan urgen bagi rakyat.

Program-program yang menukik langsung itu, antara lain: revitalisasi puskesmas dan posyandu, peningkatan status dan kesejahteraan guru honorer, rehabilitasi sekolah yang rusak, perkuat pendidikan vokasi dan magang, hapus pajak buku, 22 menit olahraga per hari, 200 hari pertama akan selesaikan defisit BPJS, universitas top 100 dunia, Oke Oce go nasional, Rumah Siap Kerja, dua juta pekerja muda, peningkatan ekonomi kreatif anak muda, sentra seni budaya, BLK 2.0 Link and Match, cabut perpres 2018 tentang Tenaga Kerja Asing, ganti Ujian Nasional dengan program basis minat, Outsourcing pekerjaan core biz dihapuskan, pajak PPH 21 dikurangi, cabut PP tentang upah murah, dan dorong Indonesia menjadi pusat ekonomi Halal Dunia.(*)

Pelajaran moral: E-KTP ternyata juga memiliki fungsi membuat merah muka dan kuping.