Imajinasi Itu

oleh -
Nira siswi SDN 170 Liukang, Bulukumba, sedang menulis Surat untuk Presiden Jokowi

Imajinasi tidak terbatas, sedangkan ilmu pengetahuan terbatas. Maka ilmu pengetahuan tidak mampu membatasi imajinasi. Sedangkan imajinasi mampu menuntun ilmu pengetahuan. Satu-satunya referensi bagi ilmu pengetahuan untuk mencapai batas-batas tertentu adalah imajinasi.

Imajinasi tentang galaksi di kepala seorang anak yang berminat terhadap astronomi tidak bisa dibatasi oleh ilmu astronomi. Kelak ketika dewasa anak itu kemungkinan menjadi peneliti di bidang antariksa dan berhasil menemukan sesuatu yang berbeda di jagad raya sesuai imajinasinya sewaktu kecil.

Manusia melihat ikan menyelam, maka muncullah imajinasi tentang kapal selam. Manusia melihat burung terbang, maka muncullah imajinasi pesawat terbang. Dan seterusnya. Imajinasi selalu merekomendasikan pencapaiannya kepada ilmu pengetahuan untuk sebuah penciptaan.

Loading...

Apa yang terjadi ketika imajinasi seorang anak dibatasi? Dia akan merasa terkungkung dan merasa tidak berdaya. Minatnya terhadap matematika akan terusik manakala dia harus mempelajari dan lulus dengan nilai baik pada mata pelajaran bahasa. Imajinasinya terpenjara. Kreativitas dan inovasinya dalam angka-angka terganggu ketika dia harus menghapal sederetan termin bahasa. Begitu pula sebaliknya, anak yang berminat terhadap bahasa kehilangan intuisinya ketika harus berhadapan dengan rumus-rumus matematika yang menguras kerja sisi otaknya yang lain. Dia tidak pernah akan merasa nyaman.

Dia akan selalu merasa tidak aman dikepung tetek bengek kurikulum yang tidak membebaskan. Salah satu prinsip dasar pendidikan adalah bahwa semua anak pintar. Hanya saja minat mereka berbeda satu sama lain. Ada yang berminat terhadap matematika. Ada pula yang menyukai musik, tata boga, olahraga, bahasa, sains, dan seterusnya.

Kreativitas seorang anak yang menyukai tata boga akan terpasung ketika dia diharuskan lulus ujian bidang studi matematika. Penelusuran minat dan bakat memang seharusnya sudah dilakukan sejak anak berada di tahap pendidikan tingkat dasar.

Bahkan orangtua di rumah sudah lebih dulu mengetahui kecenderungan anak-anaknya sebelum masuk sekolah. Orangtua anak yang berminat ke olahraga tidak boleh bersedih jika di sekolah dasar hanya ada dua jam pelajaran olahraga dalam seminggu. Minat dan bakat anak-anak di sekolah harus menguras energinya dari berimajinasi beralih ke konsentrasi pada deretan soal-soal dalam Ujian Akhir Nasional.

Biaya Ujian Nasional tentu sangat besar sekali. Bisa dibayangkan kalau saja anggaran besar itu bisa dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer atau pengadaan buku-buku perpustakaan sekolah.

Belum lagi ketika terjadi seperti mismanajemen Ujian Nasional SMA/SMK pada beberapa waktu lalu. Penyelenggaraan ujian nasional yang seharusnya dilaksanakan di 11 provinsi harus diundur karena keterlambatan distribusi soal. Pengumuman penundaan ujian nasional secara mendadak pun menambah tingkat kegalauan siswa.

Fakta kesalahan teknis lainnya di sejumlah daerah yaitu tertukarnya naskah soal ujian nasional. Implikasinya jelas, ada potensi kebocoran soal dan biaya logistik bagi pengawas di lapangan membengkak karena sudah terlanjur disebar. Belum lagi ketidakpastian berlangsungnya ujian nasional mempersulit daerah pedalaman karena harus bolak-balik ke ibukota kabupaten mengambil soal. Selain kacaunya jadwal petugas independen, keamburadulan ujian nasional juga jelas mempengaruhi mental dan konsentrasi siswa. Siswa sudah tidak lagi bersemangat untuk bersaing secara sehat karena memandang banyaknya terjadi kekurangan dan kecurangan.

Jika hanya kendala teknis salah satu percetakan, tentu pemerintah bisa memastikannya karena anggaran yang disediakan mencapai Rp500 miliar. Kesalahan teknis adalah sesuatu yang menggelikan ketika Ujian Nasional sudah berlangsung sejak 2005.

Menurut pemerhati pendidikan, Guru Besar Matematika ITB Iwan Pranoto, memerlukan waktu lima tahunan guna menguji kesetaraan soal. Siswa yang mengikuti ujian nasional tak lebih dari sekedar kelinci percobaan!

Karena imajinasi anak-anak tidak terbatas, kita harus berhenti memasung mereka semasa kecil. Sistem pendidikan yang ada saat ini, setidaknya sampai menjelang Pilpres 2019, hanya melanjutkan siklus memaksa imajinasi mereka untuk menjadi PNS misalnya di kemudian hari. Cukup kita saja, jangan mereka. Hapuskan Ujian Nasional.(*)

Pelajaran moral: Imajinasi anak yang paling keren adalah imajinasi mengganti presidennya yang dulu pernah berjanji menghapus ujian nasional.