People Power Itu

PEOPLE power juga sering disebut “color revolutions” merujuk pada identitas warna atau lambang, biasanya bunga yang dikenakan massa pendukung gerakan tersebut. Ruh gerakan dan pilihan instrumen “aksi damai” dan melibatkan “orang biasa” yang bukan pelaku politik formal. Biasanya mengusung tuntutan utama: pergantian rezim.

People Power adalah istilah yang digunakan untuk menyebut aksi damai tanpa kekerasan yang diikuti oleh jutaan massa aksi dengan tujuan menggulingkan rezim otoriter. Biasanya aksi damai ini dilangsungkan selama berhari-hari hingga dukungan terhadap rezim melemah dan rezim dengan terpaksa menyerahkan kekuasaannya pada rakyat.

Istilah People Power mulai digunakan sejak sebuah demonstrasi massal tanpa kekerasan yang terjadi di Filipina pada 1986. Selama empat hari jutaan rakyat Filipina di Metro Manila turun ke jalan untuk mengakhiri rezim otoriter Presiden Ferdinand Marcos dan pengangkatan Corazon Aquino sebagai presiden. Peristiwa itu juga dikenal dengan nama Revolusi EDSA. EDSA adalah singkatan dari Epifanio de los Santos Avenue, sebuah jalan di Metro Manila yang merupakan titik pusat konsentrasi massa ketika aksi berlangsung.

BACA JUGA:   Bendera Partai PSI Dibakar di Bulukumba

People power di Filipina dipicu oleh peristiwa pembunuhan terhadap senator Benigno Aquino Jr. Dia dibunuh di Manila International Airport setelah kembali dari pengasingan selama tiga tahun di Amerika Serikat. Rakyat Filipina murka dan kehilangan kepercayaan terhadap rezim Marcos. Tampillah istri Benigno, Corazon Aquino, menjadi figur populer menentang rezim Marcos. Pada 23 November 1985, Marcos secara mendadak mengumumkan percepatan pemilu presiden. Pemilu kemudian diadakan pada 7 Februari 1986.

Konferensi Uskup Katolik Filipina membongkar kecurangan dalam pemilu tersebut. Akhirnya, peristiwa People Power pun pecah ketika pada 22 Februari 1986, Menteri Pertahanan Juan Ponce Enrile dan Wakil Ketua Angkatan Bersenjata Fidel Ramos mengumumkan penarikan dukungan dan menuduh Marcos melakukan kecurangan dalam pemilu.

BACA JUGA:   Kartu Sakti Versus Kartu Ajaib

Sejarah selalu mencatat people power terus berulang. EDSA revolution Filipina (1986), Velvet Revolution(1989) di Cekoslowakia hingga runtuhnya Tembok Berlin (1989). Sejak pergantian millennium, hampir setiap tahun publik dunia menjadi saksi people power mulai dari Bulldozer Revolution di Serbia (2000), EDSA II di Filipina (2001), Rose Revolution di Georgia (2003), Orange Revolution di Ukraina (2004), Tulip Revolution di Kyrgyzstan (2005), Cedar Revolution di Lebanon (2005), Jeans Revolution di Belarus (2006), PAD Movement di Thailand (2006 dan 2008), Saffron Revolution di Burma (2007) dan terakhir Green Revolution di Iran (2009).

Iklan Iklan

People power tidak pernah mengenal senjata. Mereka hanya mengenal bunga dan semacamnya. Berbeda di Indonesia, istilah people power justru dikonotasikan negatif. People power di republik ini selalu diartikan dengan revolusi, huru hara, dan semacamnya.

BACA JUGA:   Mahathir

Apakah people power dalam arti dan praktik yang sesungguhnya bisa dilakukan di Indonesia? Melihat pengalaman kita terhadap aksi super damai 212 maka kita bisa percaya bahwa people power sebenarnya bisa dilakukan di Indonesia.

Imam Besar Habieb Riziek Syihab bahkan pernah memiliki istilah “Revolusi Putih”. Secara maknawi, istilah itu sinonim dengan people power.(*)

Pelajaran moral: Yang takut terhadap people power justru biasanya adalah mereka yang ahli merancang kerusuhan.

Pilpres 2019

Penulis: 
    author

    Posting Terkait

    • Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah “bangkai?” Mr. Takada

    • SEMINGGU sebelum pencoblosan pada pemilu 2018 di Malaysia, elektabilitas

    • Imajinasi tidak terbatas, sedangkan ilmu pengetahuan terbatas. Maka ilmu