Zulkarnain Pangki: Pengaspalan di Desa Anrang Mudah Bagi Pemerintah, Kenapa Tunggu 2020

oleh

BERITABULUKUMBA.COM, RILAU ALE — Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Bulukumba Andi Zulkarnain Pangki, menilai masalah proyek pengaspalan yang melewati Desa Anrang di Kecamatan Rilau Ale, sebenarnya masalah mudah jika pemerintah serius.

Dirinya menilai, seharusnya tak perlu terjadi pembongkaran oleh masyarakat, jika memang Desa Anrang masuk dalam volume pengerjaan proyek tersebut.

Apalagi jika pihak pelaksana proyek, telah menghampar material di jalanan desa tersebut.

“Kalau hanya 150 meter yang tersisa, saya kira kontraktornya yang mengerjakan dengan dana puluhan miliar bahkan ratusan miliar, masa hal seperti ini tidak bisa selesaikan,” kata Andi Nain, sapaannya, Rabu (18/9/2019).

Anggota DPRD Bulukumba tersebut, menyebutkan, bahwa persoalan jalan Desa Anrang ini, harus diselesaikan secepatnya, apalagi hal tersebut menjadi reak di masyarakat. Ia tak ingin masalah sisa pengaspalan tersebut berlarut-larut, terlebih wilayah tersebut merupakan dapilnya.

“Kita minta pemerintah segera menyelesaikan sisa pengaspalan itu. Tidak perlu menunggu sampai 2020,” tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria Yulianto, berjanji akan menyelesaikan sisa proyek pengaspalan tersebut di tahun 2020 mendatang.

Ia mengungkapkan untuk tahun 2019 ini tak ada penyelesaian untuk sisa pengaspalan itu karena memang berhenti di titik itu, sehingga pemerintah akan memprioritaskan penyelesaian jalan itu tahun depan (2020).

“Ada 150 meter yang belum diaspal namun LPA terlanjur dihambur,” ujarnya.

“Kita sudah minta juga kontraktor untuk bekerjasama membersihkan itu. Yang jelas tahun 2020 itu akan disambungkan kembali,” tandas Tomy.

Di sisi lain, Warga Dusun Tonrong, Desa Anrang, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, membongkar pengerasan jalan, Senin (16/9/2019).

Aksi tersebut, merupakan wujud protes terhadap pemerintah dan pihak rekanan yang tak

Iklan
kunjung menyelesaikan proyek jalanan.

Warga mengeluhkan debu akibat kendaraan proyek yang mondar mandir melintasi jalan tersebut.

Tokoh Pemuda Desa Anrang, Imran, mengatakan, jalanan tersebut telah melewati proses renovasi sejak tahun 2018 silam.

Pengerjaan proyek dilaksanakan oleh CV Seppang yang merupakan turunan dari PT Agung Pratama, selaku pemenang tender.

Dari total 3 kilometer panjang jalanan di desa tersebut, masih tersisa sekitar 200 kilometer yang hingga kini belum diselesaikan.

Sisa 200 meter tersebutlah yang kini dikeluhkan oleh warga. Pasalnya, kontraktor melangkahi pengerjaan sisa tersebut.

Dan hingga saat ini, kata dia, warga sudah jenuh menunggu iktikad baik dari pihak kontraktor maupun pemerintah daerah (Pemda) Bulukumba.

Olehnya, warga kini mulai melakukan pembongkaran pengerasan jalanan. Karena warga menilai, aspal jalan sebelumnya masih terbilang baik.

“Karena tiap hari kita disini makan debu, saya dan warga lain mulai mengalami sesak nafas,” katanya.

Kini, konflik tersebut semakin meluas, karena warga menolak mobil kontraktor CV Seppang untuk melintasi jalan tersebut.

Papan larangan untuk melintasi jalan itu dibuat langsung oleh warga setempat.

“Kita melarang kontraktor untuk melintasi jalan ini mengangkut material ke Desa Kahayya. Sampai hari ini, itikad baik rekanan dan solusi pemerintah juga tidak ada,” kata Imran.

Menurut Imran, kondisi warga Dusun Tonrong kini seperti dianaktirikan.

“Kenapa ada sepotong disisakan, sedang waktu di ukur masuk semua, dimana titik nolnya sampai aspal batas desa tamaona nyambung. Bahkan lucunya, sudah ada material kerikil lapisan dasar aspal, kenapa tidak dilanjutkan, kan aneh,” pungkasnya.

Iklan