Kasus Bayi Meninggal, Kopel: Ada Sistem dan Manajemen Yang Tidak Berjalan Sinkron di RSUD

BERITABULUKUMBA.COM — Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Andi Sulthan Daeng Radja kembali menjadi sorotan pasien. Pasalnya, pada saat hari libut, dokter sering tidak berada di tempat.

Tak terkecuali Komite Pemantau Legislatif (Kopel) Bulukumba. Melalui press rilis, yang diterima Beritabulukumba, Senin 15 Oktober 2019, ketua Kopel, Muh Jafar Parani mengatakan seringnya dokter tidak berada di tempat mengakibatkan lambatnya pemanganan pasien, ini menandakan bahwa ada sistem atau managemen yang tidak berjalan dan sinkron sebagaimana mestinya di RS.

Betul, bahwa dokter dapat bekerja pada 2 tempat, namun harus disadari dokter yang PNS dengan penempatan RS Bulukumba maka harus mengutamakan pelayanan di RS. Mereka dibayar dengan uang rakyat untuk memberikan pelayanan.

Adanya sistem atau managemen yang tidak berjalan, harusnya menjadi domain dewan pengawas rumah sakit untuk memastikan setiap pasien dapat tertangani dengan baik.

Dewan pengawas bertanggung jawab memastikan managemen pelayanan di RS berjalan sehingga hak pasien untuk mendapatkan layanan dasar dapat berjalan dengan baik.

Selain itu, Pemerintah daerah harus hadap diri segera menyelesaikan persoalan pelayanan dasar di Bulukumba sebagaimana dimandatkan dalam konstitusi.

“Semua yang bernyawa pasti akan meninggal, namun yang harus dipastikan adalah tidak boleh ada manusia yang meninggal karena tidak ada dokter atau karena lambat di tangani,” kata

Iklan Iklan
Muh Jafar Parani, Direktur Kopel Bulukumba.

Beredar informasi salah satu pasien, Nur Afni salah satu kader Aisyiah Barabba yang juga seorang guru SMK Muhammadiyah, pasien hamil pendarahan dan dibawa ke RS Bulukumba pada hari Minggu 13 Oktober 2019 pukul 22.00 Wita malam. Hingga pukul 02.00 Wita dini hari belum ada tindakan dari pihak RS dengan alasan tidak ada dokter yang standby.

Melihat istrinya sudah kejang kejang, akhirnya sang suami minta ke pihak perawat supaya ada solusi dan akhirnya dirujuklah ke RS Bantaeng. Dan sampai di RS Bantaeng ibu tersebut dioperasi namun sang bayi tidak tertolong lagi.

“Dengan merujuk pasien tersebut ke RS terdekat, ini seolah olah kita bangga menyerahkan penyelesaian persoalan layanan dasar ke daerah lain,” tandas Jafar.

diberitakan sebelumnya, Bupati Bulukumba, AM Sukri Sappewali telah mengeluarkan teguran keras untuk pelaksana tugas (PLT) Direktur RSUD dr. Abdurrajab serta para Dewan Pengawas yang dinilainya lalai dalam tugas.

Bupati juga telah memerintahkan agar Direktur dan Dewan pengawas RSUD Diaudit.

“Ini kesalahan yang berulang. SOP itu sangat jelas, kalau di IGD tidak ada dokter itu masuk dalam katagori pelanggaran besar. Saya sudah perintahkan Direktur dan Dewas untuk diaudit. Dengan ini saya juga memohon maaf karena bawahan saya melakukan kesalahan,” terang AM Sukri kepada awak media.

Bayi Meninggal Dalam Kandungan RSUD Sulthan Dg Radja

Penulis: 
author

Posting Terkait