Dampak Corona, Supir Bira-Makassar Ini Harap Uluran Tangan Pemerintah

oleh

BULUKUMBA – Namanya Muh Arsyad Jabal, usia 42 tahun. Sejak corona melanda, Dia langsung merasakan dampaknya.

Warga Bontobahari ini tak lagi menjalankan aktivitas sebagai supir angkutan umum rute Bira-kota Makassar. Keadaan ekonomi semakin terpuruk.

Apalagi, sejak himbauan pemerintah untuk tinggal di rumah. Ia mengaku tidak sanggup lagi bertahan di rumah. Mengingat tanggungannya terhadap 4 anggota keluarganya yang harus dihidupi.

“Mau makan apa kita pak besok. Sekarang hanya tinggal diam di rumah karena pembatasan itu,” keluhnya.

Pendapatan dari supir adalah satu-satunya tumpuan hidup. Penghasilan sebelum wabah saja kadang tak menentu.

“Dulu ada-ada saja sedikit. Tapi saat pandemi ini penghasilan Saya nol rupiah,” keluhnya. Kamis (2/4/2020)

Arsyad pun berharap bantuan dari pemerintah untuk kelangsungan hidup bersama keluarganya. Ia meminta kepada Bupati Bulukumba agar segera memperhatikan nasib orang yang tidak berpenghasilan.

“Buatlah kebijakan untuk kami agar tidak dibuat semakin menderita, saya harap Pak Bupati segera bertindak dan memperhatikan Kami, Sekarang Saya mau makan apa pak bupati, jangan tunggu ada mati kelaparan? ” harap Arsyad.

Bukan tanpa alasan, Arsyad mencontohkan kebijakan beberapa daerah. Mereka tanggap atas himbauan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengkaji skenario ringan hingga buruk terkait dampak virus corona terhadap beberapa profesi.

Termasuk pada sopir angkutan kota (angkot) dan pengemudi ojek yang paling terdampak. “Kami ingin (dampaknya seperti) skenario ringan. Kalau betul-betul sulit dibendung, paling tidak masuk skenario sedang, jangan yang paling buruk,” kata Jokowi dalam video conference tentang pengarahan presiden kepada para gubernur menghadapi Covid-19, Jakarta, Selasa (24/3) lalu. p(A.PRM)

Iklan