Uang Jajan dan Prestasi

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

12 Oktober 1995, genap sudah usiaku 7 Tahun. Pada tahun yang sama pula Aku resmi tercatat sebagai salah satu murid Sekolah Dasar (SD) di desaku. Aku perempuan bertubuh mungil, berambut panjang dan kulit sawo matang.

Sudah jelas bahwa Aku ini adalah murni darah daging ibu bapakku, karena mewarisi warna kulit mereka. Aku anak keempat dari 5 bersaudara. Kata orang, Kami berlima memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata.

Barangkali mewarisi gen cerdas dari Ibu. Sebelum duduk di bangku sekolah aku sudah mahir calistung. Sudah menjadi kewajiban setiap anak belajar sebelum beranjak ke tempat tidur.

Sedikit bercerita mengenai sosok ibu. Beliau cukup keras dalam mendidik anak-anaknya. Untuk kesalahan kecil saja kami pasti dapat hukuman ringan, berupa cubitan.

Bahkan sampai hukuman berat, dipukuli. Paha kami adalah sasarannya. Cubitannya bukan cubitan biasa, ada bekas yang ditinggalkannya.

Ibu kami lahir sebagai anak pertama, mungkin karena itulah ibu kami berwatak keras dan tidak manja. Sewaktu masih belia ibu katanya disebut bunga desa. Ada banyak pria yang menggodanya. Olehnya itu kemana saja ibu pergi selalu dikawal (ditemani) salah seorang bibinya.

Sampai Kami masih seusia saat ini ibu masih sering bercerita tentang masa-masa remajanya. Mungkin ibu ingin dari itu semua kami bisa belajar sesuatu hal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *