Indrawan, Sosok Entrepreneur Muda di Balik Kopi Anrang

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Rasa penasaran publik khususnya masyarakat Bulukumba terhadap Kopi Anrang yang diroasting dari kopi langka jenis liberika, juga memunculkan penasaran mereka terhadap anak muda bernama Indrawan. Indrawan atau lebih akrab disapa Indra adalah putra dari pasangani petani sederhana, Firdaus dan Nurda di Desa Anrang, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba. Indrawan yang tahun 2020 baru menginjak usia 22 tahun ini adalah lulusan berpredikat cum laude di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nobel, Makassar, tahun 2019.

Sebenarnya Indra kalau mau dia bisa saja dengan mudah diterima bekerja di salah satu perusahaan bonafid lantaran predikat cum laude. Namun Indra lebih memilih untuk pulang membangun kampung halamannya.

Bacaan Lainnya

“Dari Ngamen Sampai Gerobak Minuman”
Semasa kuliah, Indra mengaku mendapatkan uang kiriman orangtua sebesar Rp.300.000 setiap bulan. Dengan uang hanya sebesar itu Indra tidak pernah membebani orangtuanya di kampung dengan meminta uang pembayaran kuliah seperti SPP dan pembayaran lainnya.

BACA JUGA:   Nikmatnya Kopi Anrang, Kopi Jenis Liberika yang Langka

Indra berusaha mencari uang dengan mengamen. Pernah juga Indra menjual jasa membantu menyeberangkan orang-orang di jalan raya.

Suatu hari Indra bekerjasama dengan seorang temannya membuka usaha gerobak nasi kuning. Sayangnya hanya tiga bulan usaha mereka berjalan sebelum kembali modal.

“Dicemooh Di Kampung Sendiri”
Setelah berhasil menyelesaikan kuliah dengan gelar Sarjana Akuntansi (S.Ak), anak muda yang memiliki tekad baja ini memutuskan untuk pulang dengan tujuan ingin membangun kampung halamannya sendiri, Desa Anrang.

Indra mencoba untuk menggali kembali pengetahuan maupun ingatan terkait potensi-potensi terpendam di kampungnya.

Indra sejak dulu adalah penikmat kopi. Ingatannya dibaluri kenangan semasa SMP dulu betapa sebuah pemandangan lazim berkarung-karung biji “Kopi Bugis” (sebutan orang di kampungnya untuk kopi liberika) yang dipetik, diolah, dijual, hingga dinikmati oleh penduduk di kampungnya.

Dari titik kenangan itulah Indra memulai. Ia pun sejak dulu sejak kuliah sudah menemukan perbedaan cita rasa antara kopi di kampungnya dengan kopi di luar kampungnya.

BACA JUGA:   Nikmatnya Kopi Anrang, Kopi Jenis Liberika yang Langka

Indra melakukan semacam riset, bertemu dengan banyak orang yang berpengalaman di dunia perkopian. Mulai dari penikmat kopi sampai akademisi. Hingga akhirnya dia menemukan jawabannya, ternyata kopi di kampungnya adalah jenis kopi liberika. Sebuah jenis kopi yang sebenarnya sudah langka.

Indra mulai mengumpulkan modal sendiri. Dibantu beberapa orang sahabatnya dia mencoba memproduksi bubuk kopi kemasan dari kopi liberika. Proses pengolahannya sengaja mengadaptasi pola pengolahan tradisional yang turun temurun dilakukan di kampungnya. Namun dengan sedikit modifikasi berupa sentuhan modern. Hasilnya sangat di luar dugaan. Kopi Anrang dengan tagline “Kopinya Orang Tempo Doeloe” berhasil memikat hati para penikmat kopi di luar Desa Anrang. Kopi Anrang pun didistribusikan ke warung-warung kecil maupun toko besar di luar Anrang.

Awalnya, banyak yang mencemooh dan menertawakan Indra. Bahkan ada yang berkata, “Kok sarjana membonceng kardus?” Sebagai ejekan kepada Indra yang awal-awal bisnisnya membonceng sendiri produknya berkeliling jauh di luar Anrang. Bahkan Indra pernah sempat menginap di masjid ketika berkeliling di luar Anrang.

BACA JUGA:   Nikmatnya Kopi Anrang, Kopi Jenis Liberika yang Langka

Pada akhirnya Indra berhasil “membungkam” orang-orang yang mencemoohnya itu ketika Kopi Anrang menyita perhatian orang-orang di luar Anrang. Silih berganti orang-orang dari berbagai kalangan bahkan dinas pemerintah masuk ke Anrang untuk mencari rumah Indra. Mereka datang tentu saja terkait dengan urusan Kopi Anrang.

Indra pun kerap diundang menjadi pembicara dalam diskusi-diskusi, seminar, dan workshop terkait kewirausahaan atau entrepreneurship.

Penjualan Kopi Anrang dengan kemasan menawan berwarna hitam ini sudah sampai ke luar Sulawesi, seperti di NTT dan Kalimantan.

Kopi Anrang, kopi langka dari jenis liberika yang hanya tumbuh di Desa Anrang ini tentunya membutuhkan dukungan berbagai pihak terutama pemerintah daerah. Kopi Anrang harus dilestarikan bukan hanya melalui budidaya maupun industri. Indra mengharapkan, Kopi Anrang ke depan bisa menjadi salah satu ikon dari Bulukumba khususnya di dunia perkopian.

Jangan mengaku sebagai orang Bulukumba jika belum merasakan Kopi Anrang. (*)

Pos terkait

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.