Antara Corona, Altruisme, dan Varietas Penyakit Sosial

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Salah satu nutrisi penting bagi peradaban adalah altruistik. Dia vitamin sosial. Memberi sedekah ataupun pelbagai bentuk bantuan kepada orang lain -khususnya kaum dhuafa-sering dianggap sebagai tindakan altruistik. Dan altruisme tidak pernah mengenal sistem balas budi.

Aktruisme juga adalah prinsip dan praktik moral yang memperhatikan kebahagiaan manusia atau hewan lain, yang menghasilkan kualitas hidup baik materi maupun spiritual.

Altruisme dapat menjadi sinonim dari keegoisan. Altruisme pun diajarkan oleh nyaris semua agama di dunia.

Jika corona telah melahirkan berbagai tindakan altruisme di tengah masyarakat maka corona pun melahirkan varietas penyakit sosial. Penyakit sokta alias sok tahu mungkin sudah biasa. Mendadak banyak netizen berganti profesi menjadi pakar kesehatan, dokter, filsuf, sampai ustad. Sebagian di antara mereka mungkin saja berniat baik. Maksudnya ingin saling mengingatkan.

BACA JUGA:   Kaget adalah Sebagian dari Iman

Wilayah hati tentunya adalah juga “wilayah Ilahi”. Kadar keikhlasan
Setiap orang tidak dapat ditakar melalui postingan di medsos atau tindak tanduk apapun.

Yang sedang mewabah akhir-akhir ini juga penyakit “tidak seru tanpa dokumentasi.” Altruistiknya berupa adegan menyemprotkan disinfektan di kompleks perumahan. Namun tidak segera dimulai sebelum wartawan yang sudah dikonfirmasi sebelumnya telah datang ke lokasi. Bagi-bagi masker dan sembako tidak akan dimulai kalau belum ada kamera hp yang siap. Kalau hp lagi lowbet maka aksi sosial ditunda beberapa puluh menit, menunggu hp dicas dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *