Kapitalis dan Penguasa, Menyerahlah!

oleh

Kaum kapitalis sudah seharusnya menyerah dan kembali pada salah satu inti ajaran Bapak Kapitalisme, Adam Smith: “Bukan dari kebaikan tukang daging, tukang minuman dan tukang roti kita mendapatkan makan malam kita. Tapi itu semata karena kecintaan mereka atas dagangan mereka sendiri. Karena itu, jangan datang pada mereka dengan menyatakan kepentingan pribadi. Datanglah pada mereka dengan mengangkat cinta mereka pada diri sendiri”.

Dengan begitu self-interest itu sesungguhnya adalah filsafat manusia kapitalisme. Bagi Adam Smith, kepentingan diri itu bagus. Karena kepentingan diri satu individu akan dikoreksi oleh kepentingan diri individu lain. Hasil akhirnya justru kepentingan publik lebih terlindungi.

Mungkin suatu hal yang utopis jika membayangkan kaum kapitalis rela menanggung beban hidup para eks karyawannya yang sudah di-PHK. Namun ini adalah soal mau menyerah atau tidak. Dengan kalkulus khas kapitalisme, sebenarnya mereka paham jika wabah cepat berakhir maka roda ekonomi bisa segera dimulai lagi perputarannya. Hanya saja mereka suka terjebak dalam keputusan mendadak: omzet menurun maka karyawan harus dikurangi.

Dilihat dari sudut manapun, perkembangan dari covid-19 sejauh ini sudah seharusnya juga membuat penguasa menyerah. Menyerah bukan dalam konteks menyerahkan kekuasaannya. Melainkan menyerah dalam bentuk memberlakukan lockdown nasional secara total. Lebih dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sedang diberlakukan di beberapa daerah.

Penguasa punya tanggung jawab besar untuk menenangkan rakyat. Tidak berlarut-larut membiarkan mereka setiap hari berdebat secara virtual maupun dalam kehidupan sehari-hari. Ada saja yang mereka perdebatkan. Mulai perbedaan antara kata mudik dan pulang kampung, silang pendapat mengenai masjid yang ditutup sementara pasar dan mal tetap buka, hingga curhatan rutin seputar penghasilan keluarga yang kian morat-marit.

Tidak ada jalan lain bagi penguasa. Harus menyerah! Lockdown total nasional harus segera diterapkan. Dengan lockdown total maka tidak akan ada lagi masyarakat yang kelihatan batang hidungnya di luar rumah. Yang boleh berkeliaran di jalanan hanya relawan dan petugas medis, aparat keamanan, dan petugas penyuplai bahan kebutuhan sehari-hari untuk setiap warga.

Dengan lockdown total yang bisa menggunakan UU Karantina Kesehatan Tahun 2018 maka setiap individu merasa dijamin hak-haknya dalam memenuhi kebutuhannya. Mereka tidak perlu antri berdesak-desakan hanya untuk mengurus jaring pengaman sosial berupa bantuan tunai 600.000 rupiah setiap bulan. Rakyat akan rela pasar dan mal ditutup. Rakyat akan rela usahanya ditutup. Yang kena PHK dari perusahaan akan rela berdiam diri di rumah. Bahkan para begal segala jenis penjahat kelas coro pun akan rela berhenti beroperasi.

Rakyat sudah jauh lebih dari cukup menyerah. Kini giliran kapitalis dan penguasa. Hanya saja mereka memang terlalu takut dibayang-bayangi kemungkinan lengser, baik dari bisnis maupun kekuasaan. Mereka lupa, ketika rakyat mendekam dalam rumah maka ancaman itu berada di level utopis.(*)

Pelajaran moral: rakyat yang kelaparan lebih ditakuti penguasa dibanding rakyat bersenjata namun kebanyakan penguasa lebih suka mengulur waktu.