Konser Genjer-Genjer

  • Whatsapp

Setiap jaman punya lagu. Setiap jaman punya konser. Dalam partitur sejarah, Orde Lama memiliki notasi tersendiri yang khas. Atraksi dari banyak ensembel membangun harmoni berupa politik sebagai panglima.

Begitu pun Orde Baru, bisa ditemu-kenali pada ciri nyanyian pembangunan ekonomi namun menafikan tuntutan pasar, yaitu demokrasi dan clean governance.

Orkestra yang paling bising justru terjadi pada Orde Reformasi. Siapa saja bisa bernyanyi, koor, bahkan tampil memainkan semua alat musik. Gaduh! Pemusik luar negeri bahkan boleh ikut bebas bermain.

Terlepas dari apa pun jamannya, tetap saja dirigen oligarki merupakan sentra. Oligarki paling berkuasa mengendalikan nada dan irama.

BACA JUGA:   Rumor: Project Aura Kode Nama Google Glass Terbaru

Oligarki adalah juga instrumen, paduan vokal, sekaligus maestro yang tak tergantikan. Tidak ada lagu yang sah dinyanyikan tanpa panduan oligarki.

Pada masa keberingasan PKI, lagu Genjer-Genjer dijadikan oleh kaum komunis sebagai salah satu alat propaganda. Tidak ada yang salah pada lagu itu. Kesalahannya hanya terletak ketika lagu itu identik sebagai milik PKI. Stigmatisasi membuat Genjer-Genjer lenyap dalam list memori selama kurun waktu tertentu.

Konser apa yang bisa kita nikmati hari ini? Tentu saja konser Genjer-Genjer! Uniknya, konser besar ini diselingi komedi-komedi. Ada pula selingan akrobat pasien rumah sakit jiwa dan teatrikal anak TK.

Jeritan penderitaan rakyat menjadi koor panjang melengkapi dentuman dahsyat instrumental. Di sana terdapat nasionalisme, orang-orang mengerek bendera merah putih sambil memegang perutnya yang lapar.

BACA JUGA:   Andik Vermansyah Bawa Selangor FA Juara, Tak Lupa Kibarkan Merah Putih

Nyanyian paling hits yaitu tentang kaum oposisi yang digencet, upaya pemberantasan korupsi dimandulkan, hukum tebang pilih, demokrasi berada pada titik nadir, ekonomi kolaps, konstitusi terancam, ideologi bangsa diracuni, negara bangkrut.

Genjer-Genjer! Lagu tentang rakyat yang hanya mampu memasak genjer-genjer sebagai lauk sebab tidak mampu lagi membeli daging.(*)

Pelajaran moral: genjer-genjer tidak bisa dipesan melalui koki istana.

Pos terkait