SPMI Minta Polisi Usut Pembuat Surat Edaran yang Diduga Palsu

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

MAKASSAR – Solidaritas Pekerja Musik Indonesia (SPMI) Sulsel telah melayangkan surat kepada Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah. Para pekerja musik di Makassar, Sulsel umumnya mendapat imbas akibat pandemik COVID-19.

Minimnya aktivitas atau job kontrak dengan pelaku hiburan berdampak pada ekonomi musisi lokal. Khususnya bagi musisi dan seniman yang kini banyak harus menganggur. Hal tersebut dikatakan Edy Loejoe, Ketua SPMI Sulsel saat ditemui Senin 11 Agustus 2020. Menurutnya, pihaknya telah mengirim surat kepada gubernur Sulsel dan Walikota Makassar.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:   Soal Demo, SPMI Sulsel: Pekerja Hiburan Malam Cari Solusi Bukan Masalah

Hanya saja, dirinya belum mendapat surat tanggapan. “Sangat berdampak bahkan kami banyak menganggur. Tanggal 27 Juli kita kirim surat namun belum ada balasan,” kata penggebuk drum Band Loejoe itu. Pihaknya juga masih berharap gubernur dan walikota akan turun tangan memberikan solusi. Pihaknya juga mengharap agar anggota SPMI menahan diri atas isu yang diduga provokatif.

“Belum ke arah sana (Unjukrasa). SPMI tidak pernah mengeluarkan himbauan demo. Kita masih percaya dengan jalur komunikasi saat ini ke pihak terkait,” tegas Edy. Pada kesempatan itu, Edy meminta aparat kepolisian untuk mengusut adanya surat edaran pemkot yang diduga palsu. “Sudah ada klarifikasi oleh Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kota Makassar, Rusmayani Madjid di media. Dia menegaskan tak pernah mengeluarkan surat edaran lanjutan terkait penutupan industri hiburan,” paparnya.

BACA JUGA:   Begini Cara DD Production dan Komunitas Musik di Makassar Peduli COVID-19

Surat Edaran itu kata Edy telah membuat pekerja musik semakin panik. “Tentu berbahaya dan meresahkan karena isi SE tersebut mengatakan mulai berlaku 12 Agustus,” tutup Edy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *