JICA Gelar Survei Program Prima

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

BULUKUMBA,BB – Program Prima Kesehatan hasil kerjasama antara Pemkab Bulukumba dan Japan International Cooperation Agency (JICA) berakhir pada Maret 2014.

Kini pihak Prima akan melakukan survei dampak atas pelaksanaan berbagai kegiatan yang telah dilakukan selama ini sejak program prima dimulai tahun 2007 silam.

Bacaan Lainnya

Tujuan dari survei ini untuk mengukur dampak mekanisme Prima terhadap peningkatan kesehatan dasar masyarakat dan mengukur cara kerja atau implementasi kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah yang bekerja bersama dengan masyarakat, serta meningkatkan kapasitas para pelaksana instansi terkait dalam mengelola program.

Pada orientasi survei yang dilakukan pada Rabu (25/9) di Gedung PKK, terungkap bahwa survei yang akan dilaksanakan mulai 16 Oktober dilakukan oleh 1 orang perkecamatan dan 1 orang per puskesmas, dimana sebelumnya para surveyor itu akan dilatih oleh tim ahli. Beberapa indikator penilaian dalam survei ini adalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), kesehatan ibu dan anak, serta indikator gizi masyarakat. Menurut Advisor Prima Kesehatan Burhanuddin Kadir, survei ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat dari kegiatan Prima Kesehatan, praktek baik yang telah dilaksanakan dapat dilanjutkan oleh pemerintah dan masyarakat Bulukumba, meski program ini nanti sudah berakhir.

Pada kesempatan tersebut, pihak Japan Oversease Corporation Volunteer (JOCV) atau Relawan Jepang mempresentasikan program yang telah dikerjasamakan dengan pemerintah Indonesia diberbagai sektor. Menurut kepala JOVC, Mr. Yoshijima Shoichi, para tenaga relawan Jepang untuk Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1988 sampai sekarang ini dan tersebar di seluruh Indonesia. Tenaga relawan itu akan membantu dan mendampingi masyarakat atau lembaga sesuai dengan kapasitas keahlian yang dimilikinya melalui transper pengetahuan dan keterampilan teknis. Para relawan ini bekerja secara mandiri dan tidak terlibat di program JICA lainnya.

Untuk menjadi relawan, orang Jepang tersebut dilatih bahasa Indonesia selama 70 hari, dan disyaratkan untuk tidak boleh memakai sepeda motor, meski itu hanya dibonceng, mereka hanya dibolehkan memakai sepeda dan mobil angkutan umum. Saat ini sudah ada satu orang relawan yang bernama Yuri tinggal di Bulukumba, dia selama ini mendampingi masyarakat dan staf di Kantor Lingkungan Hidup dalam mengelola limbah sampah anorganik. Mr. Yoshijima Shoichi akan mendatangkan 10 relawan ke Bulukumba untuk meng-asessment kebutuhan mendasar yang perlukan oleh masyarakat dan pemerintah daerah.

Laporan: Press Release

  • Whatsapp