Benarkah Ini Video Densus 88 Siksa Terduga Teroris?

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Jakarta, BB – Sebuah video amatir menggambarkan Detasemen Khusus (Densus) 88 melakukan penyiksaan terhadap orang yang diduga tertuduh teroris seperti diceritakan MUI.

Video berdurasi 13:54 menit ini telah beredar di dunia maya khususnya situs berbagi video Youtube. Video ini heboh dan mendapat protes sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam. Pasalnya video ini persis yang diceritakan oleh MUI Pusat ketika menyerahkan sebuah video kekerasan aparat kepada Mabes Polri.

Bacaan Lainnya

[vsw id=”ZPtGLwP2gVQ” source=”youtube” width=”600″ height=”450″ autoplay=”no”]
Wakil Ketua MUI, Din Syamsuddin yang juga merupakan Ketua PP Muhammadiyah ini mengaku menerima kiriman video kekerasan itu satu minggu yang lalu. Ia pun tak tahu siapa yang mengiriminya.

Dalam video itu, Din menceritakan terdapat gambar penyiksaan terhadap orang yang disangka teroris. Rekaman itu menunjukkan sikap para anggota Densus 88 yang keji menindas tertuduh teroris.

“Jika terbukti telah melakukan pelanggaran HAM berat, maka ormas dan ummat Islam harus menuntut hukuman kepada jajaran pimpinan Densus 88 dengan hukuman seadil-adilnya,”katanya.

Sementara itu Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar membantah anggota Densus 88 Anti Teror telah menganiaya terduga teroris. Boy juga ragu dengan pelaku kekerasan yang terlihat dalam rekaman video yang dilaporkan oleh sejumlah ormas Islam itu adalah personel Densus.

“Kami nyatakan setelah mencermati tayangan berdurasi 13 menit itu, belum bisa kami pastikan itu adalah anggota Densus,” kata Boy dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin 4 Maret 2013.

Pihak Mabes Polri telah mempelajari rekaman tersebut. Dia mengakui bahwa di dalamnya memang memperlihatkan proses penangkapan seorang terduga atau tersangka teroris di Poso pada Januari 2007 silam.

“Jadi tahun 2007 di Poso ada kegiatan penegakan hukum terhadap mereka yang terkait aksi kekerasan. Menurut informasi yang kami terima, tersangka sudah diproses hukum,” ujarnya.

Laporan: Wiwin