Lemo-lemo, Surga Pariwisata Bulukumba yang Belum Tersentuh

oleh

Sebagai sebuah daerah yang memiliki wilayah laut paling luas di Bulukumba, Bonto Bahari menjadi satu-satunya kecamatan yang memiliki potensi tertinggi untuk mengembangkan wisata bahari. Sejauh ini jika berbicara tentang Bulukumba, maka hal yang terbayang adalah perahu pinisi dan Pantai Pasir Putih Tanjung Bira. Dua hal tersebut memang sudah menjadi trade mark bagi kabupaten yang berjulukan Butta Panrita Lopi ini. Pantai Pasir Putih Tanjung Bira memang sudah masyur sebagai destinasi wisata bahari bukan hanya di kancah lokal maupun nasional, tetapi juga di kancah internasional. Demikian pula dengan Pinisi, perahu dengan tujuh layar ini bukan hanya sebagai ikon pariwisata melainkan sebuah warisan adiluhung dari budaya bahari nenek moyang.

Berbeda halnya dengan kedua daerah tersebut, Pantai Lemo-lemo masih asing di telinga publik. Keberadaanya yang masih alami dan cenderung belum tersentuh oleh pembangunan membuat daerah yang bertanah karang itu belum banyak dilirik para wisatawan. Padahal daerah ini memiliki banyak daya dukung untuk dikembangan sebagai destinasi wisata bahari di Bulukumba. Kondisi pantainya yang berpasir putih dan bentangan pantainya yang cukup panjang dan luas merupakan modal yang cukup untuk menarik para pelancong. Berbeda dengan pantai pasir putih tanjung bira yang panas dan tidak ada pepohonan, pantai lemo-lemo menyuguhkan suasana yang sejuk. Hutan dengan tumbuhan heterogen yang berada di sekitar pantai membuat suasana di pantai ini terasa sejuk meski sinar matahari menyengat.

Loading...

Daya pikat pantai ini bukan hanya terletak pada pasir putih dan air laut yang masih jernih, tetapi juga beberapa gugusan batu karang yang menyembul ke permukaan air yang masih alami. Fenomena alam unik yang juga di jumpai di Lemo-Lemo adalah tanah berwarna merah yang berdiameter beberapa puluh centimeter saja, selebihnya tanah berwarna hitam. Apabila tanah merah ini digali, tanah akan tetap berwana merah. Sementara daerah di sekitarnya tidak menunjukan fenomena yang serupa. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menjawab mengapa di tepian pantai ada tanah berwarna merah dan melingkar.

Fenomena alam lain yang juga menarik di Lemo-Lemo adalah munculnya mata air tawar di tepi pantai. Berjarak beberapa puluh meter dari tepi pantai didapati pula Goa yang di dalamnya mempunyai mata air tawar dan jernih. Tidak diketahui secara pasti kapan mata air ini mulai dimanfaatkan masyarakat sekitar. Namun, satu hal yang jelas bahwa hingga saat ini mata air ini masih dimanfaatkan oleh penduduk kampung lemo-lemo untuk mandi maupun mengambil air untuk masak.

Di samping beberapa pesona alam di atas, Lemo-lemo juga menyimpan potensi lain yang laik sebagai daya dukung pariwisata. Potensi tersebut adalah potensi wisata sejarah. Meski daerah ini secara fisik terlihat gersang, panas dan jauh dari kata subur dan lebih dekat dengan kata terisolir, tetapi siapa yang menyangka jika Lemo-lemo dulunya adlah sebuah pusat kerajaan Lemo-Lemo. Kerajaan ini adalah kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Gowa. Sebagai sebuah daerah taklukan, Lemo-lemo berkewajiban untuk menyediakan armada bagi Kerajaan Gowa. Oleh karena itu tidak mengherankan jika masyarakat Lemo-Lemo secara turun temurun mewarisi keahlian membuat perahu hingga kini. Meski intensitasnya tidak sebanyak pembuatan perahu di Tanah Beru, tetapi pemandangan pembuatan perahu atau kapal pun masih dapat dijumpai di Lemo-Lemo.

Cerita rakyat serta beberapa bukti makam para raja lemo-lemo menjadi bukti yang sahih bahwa di tempai ini dulunya pernah berdiri sebuah kerajaan yang memegang peranan penting dalam sejarah kemaritiman Nusantara. Makam para pembesar Kerajaan Lemo-Lemo yang terdapat di antara semak-semak hutan di tepian Pantai Lemo-Lemo juga merupakan asset budaya sekaligus wisata yang pantas dikembangkan. Berjarak beberapa meter saja dari goa bermata air tawar tersebut, dapat pula dijumpai sisa-sisa benteng pembatas istana. Demikian pula di dekat pantai juga masih terdapat sisa-sisa Benteng Karampuang. Benteng ini disinyalir merupakan satu diantara dua benteng pertahanan Lemo-Lemo. Menurut penuturan masyarakat benteng ini dugunakan untuk pertahanan dari serangan Belanda (kurang diketahui tahun berapa).

Potensi alam dan sejarah (budaya) ini tentu merupakan asset berharga yang dapat digunakan untuk mendongkrak sektor pariwisata di Bulukumba. Apabila daerah ini dikelola dengan maksimal, bukan tidak mungkin Lemo-Lemo akan mampu mensejajarkan diri dengan Bira. Guna mewujudkan hal tersebut tentu dibutuhkan dukungan yang menyeluruh baik dari para pemangku kebijakan (pemerintah daerah) maupun pihak swasta juga masyarakat tanpa terkecuali. Di samping promosi pariwisata yang lebih gencar, pembangunan sarana prasarana penunjang pariwisata sangat penting dilakukan untuk mewujudkan Lemo-lemo sebagai destinasi wisata yang diperhitungkan. Selaras dengan upaya pembangunan tersebut, masalah kebersihan pantai kiranya menjadi prioritas penting. Sebagaimana terlihat dalam foto di atas, di Lemo-Lemo masih tampak sampah berserakan. Kondisi ini jelas akan mengurangi sisi keindahan pantai yang masih alami ini. Hal lain yang tidak kalah penting dalam  pengembangan kawasan wisata Lemo-Lemo adalah keberadaan situs Lemo-Lemo. Konservasi terhadap bukti sejarah ini penting dilakukan, terlebih mengingat Lemo-Lemo adalah mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dalam sejarah kejayaan maritim di Nusantara beberapa abad silam.

Oleh: Ismi Yuliati, S.S
Penulis adalah alumnus sejarah Universitas Gadjah Mada, Pernah mengikuti Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi pada Maret-Juli 2013 yang diselenggarakan oleh Kopassus-Kemenkokesra.

Loading...