Bantaeng Dukung Program Guruku Panutanku

oleh

BANTAENG,BB – Pemerintah Kabupaten Bantaeng bakal mendukung penuh kegiatan “Guruku Panutanku” yang diselenggarakan Harian Fajar, kerjasama dengan
Universitas Negeri Makassar. Hal ini tampak, pada saat kegiatan Sosialisasi ini berlangsung di Balai Kartini Bantaeng, Sabtu (25/1), dihadiri oleh seribuan Guru dari berbagai sekolah di Bantaeng.

Balai Kartini ini tampak penuh karena setiap sekolah di Bantaeng, mengirimkan 3 hingga 5 orang guru untuk mengikuti kegiatan sosialisasi yang dihadiri langsung oleh Bupaati Bantaeng HM. Nurdin Abdullah dan Wakil Bupati Bantaeng HM. Yasin beserta Kadis Dikpora Prof. Syamsul Alam.

Loading...

“Kita sangat mendukung ini. Manfaatnya sangat besar untuk masa depan
pembangunan bangsa,” jelas Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah, saat
menghadiri proses presentasi pelaksanaan Program Guru Panutanku,
Sabtu (25/1). Bukan hanya Bupati. Wakil Bupati, HM Yasin, ikut hadir
bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bantaeng, Syamsu Alam,
yang menjadi salah satu pemberi materi presentasi.

Program Guruku Panutanku menjadi penting untuk segera diikuti, dalam rangka  mendorong proses belajar mengajar yang berkarakter. “Agar tidak ada lagi guru yang
mendidik dengan kekerasan, memberi rasa trauma terhadap murid. Tapi
betul-betul menjadi panutan yang memahami kelebihan serta kekurangan
murid,” jelas dia.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Bantaeng HM. Nurdin Abdullah yang juga merupakan alumnus dari Universitas Kyushu Jepang ini, turut akan memberikan hadiah bagi guru yang berhasil dan bisa dibawa melihat kemajuan Jepang dalam hal bidang pendidikan.

Wakil Direktur Pemasaran Harian Fajar, yang juga ketua panitia program
Guruku Panutanku, Ruslan Ramli, menjelaskan, wisata ke Jepang menjadi
salah satu pilihan agenda jalan-jalan luar negeri program tersebut.
Jepang merupakan negara yang sangat peduli dengan guru, dan patut
dicontoh. Apalagi Bantaeng merupakan salah satu daerah binaannya di Indonesia.

“Saat Kota Hiroshima dan Nagasaki karena dibom, yang dipikirkan Kaisar
Jepang saat itu, adalah berapa orang guru yang masih tersisa. Kaisar
lebih memikirkan guru, ketimbang memikirkan insinyur atau kontraktor
untuk membangun kembali gedung-gedung yang hancur,” jelas dia.

Nurdin menjelaskan, dirinya sering mengajak sejumlah pejabat di
Bantaeng untuk membangun semangat mereka bekerja lebih baik. “Beberapa
dari mereka yang sudah ke Jepang menjadi sadar, karena melihat seorang
Presiden Direktur di Jepang itu angkat koper sendiri, buka pintu
sendiri, tanpa ada bantuan,” jelas dia. Proses pemilihan guru panutan
dengan menilai aspek karya tulis, presentasi, sosialisasi, wawasan dan
poling, akan segera berlangsung, hingga puncak pemilihan juara pada 29
April 2014 mendatang. Dan akan menjadi Dewan Juri adalah Tokoh Nasional dan memmiliki integritas yang lebih dan mumpuni di bidangnya.

Laporan: cr16/Riesa Mylani

Loading...